Coronavirus 2019, atau dengan nama resminya penyakitnya COVID-19 bukan sekedar permasalahan secara medis, karena musuh yang hadir saat ini bermuka dua. Dimana ia bisa mempengahuhi kesehatan dan membuat orang sehat menjadi sakit, sekaligus mempengaruhi psikologis sehingga menimbulkan kesulitan berpikir serta kepanikan. Karena apa? Karena kita belum kenalan. Yuk kita kenalan!

Siapa sih Coronavirus?

Jadi siapa sih si Coronavirus ini? Untuk menjawabnya, saya harus mencari sumber informasi yang mampu  menjelaskan siapa virus yang tiba-tiba merebak ke seluruh dunia di awal Januari 2020, dan ditetapkan sebagai Pandemi oleh World Health Organization (WHO) pada bulan Maret 2020 ini, serta mampir ke Indonesia setelah suspect pertama diumumkan Presiden tanggal 2 Maret 2020.

Tapi susahnya minta ampun! Karena siapa saja di zaman media sosial ini bisa mengaku jadi praktisi kesehatan? Duh.

Oke, saatnya kita beralih mencari informasi ke para peneliti, yang mana mereka sudah mengetahui tentang virus-virus ini, mulai dari yang berkembang dahulu kala hingga saat ini.

Untunglah saya dipertemukan dengan berbagai dokter yang dirasa mampu menjabarkan informasi ini dari kegiatan Temu Netizen yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, untuk mengenalkan siapa sih COVID-19 ini. Kata Prof. Dr. drh Wayan Tunas Artama dari Universitas Gadjah Mada, COVID-19 ini merupakan penyakit dari virus yang berkembang dari hewan ke manusia. Dimana dahulunya kita juga ada virus yang menular dari hewan ke manusia yang namanya Virus Ebola, HIV, SARS (Severe Acute Resporatory Syndrome) yang keluar di Tiongkok Selatan, dan MERS (Middle East Respiratory Syndrome) yang ada di Arab Saudi. Hewannya macem-macem, bisa kelelawar, tikus, hingga burung.

Burung? Masih inget kan flu burung? Ya, virusnya berkembang dari burung ke manusia.

Lalu kenapa namanya Corona? Karena virus ini berbentuk seperti mahkota, sama seperti virus pada SARS dan MERS. Karena keluarnya dari Huanan Seafood Market di Wuhan, Tiongkok, akhirnya namanya penyakitnya jadi beda-beda mulai dari Wuhan Pneumonia, Novel Coronavirus, sampai Pnemounia Tiongkok. Sehingga WHO memutuskan nama virus ini adalah SARS-CoV-2 dan COVID-19 (Corona Virus Disease -19) sebagai nama penyakitnya, sekaligus menyeragamkan penamaan di seluruh dunia.

Gimana cara penyebarannya?

Virus ini ternyata cepat menyebar ke seluruh dunia! Tampaknya cuma Antartika saja yang selamat dari virus ini. Menurut dr. Ika Trisnawati, M.Sc.,SpPD-KP, Ketua Tim Viral Airborne RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, virus ini menyebar lewat transmisi droplets dari para penderita sebelumnya, alias harus ada perantara manusia yang sudah terkena si virus ini.

Apa itu droplets? Jadi droplets sendiri merupakan partikel-partikel yang keluar dari tubuh manusia dalam mekanisme flu atau batuk, yang memiliki sifat lebih berat dari udara dan dapat menempel dimana saja dalam jarak 1,8 meter. Sehingga siapapun manusia yang sudah terinfeksi dengan virus COVID-19 akan mampu menyebarkan virus baik dari kontak langsung seperti sentuhan tangan, maupun kontak tidak langsung melalui benda-benda yang terkena droplets, hingga masuk melalui mukosa.

Duh apa lagi itu mukosa? Jadi kulit kita ini memiliki berbagai lapisan, nah yang paling dalam itu adalah kulit mukosa. Mukosa paling mudah dikenali ada di mulut, rongga hidung, bibir, kelopak mata, telinga, dan tempat lainnya. Jadi si virus ini masuknya dari kulit tipis itu.

Lalu apa bedanya COVID-19 dan Flu?

Tentu COVID-19 lebih berat dari flu biasa, dimana biasanya flu bisa kelihatan dampaknya dalam waktu seminggu, COVID-19 harus dua minggu dulu untuk melihat apakah kita sudah terjangkit atau belum. Selain itu, terkena penyakit ini bisa membawa masalah yang lebih kompleks, mulai dari masalah pernapasan, pencernaan, hingga mengganggu organ-organ lainnya. Sehingga bila mendapatkan penanganan yang tidak tepat, maka dapat menyebabkan kematian.

Mati? Waduh serem! Sangking takutnya, munculah berbagai spekulasi yang tidak didasari dengan fakta ilmiah menjadi pesan berantai. Asumsi yang kurang tepat juga mendatangkan bahaya baru yaitu banjir informasi mengenai penyembuhan COVID-19.

Mbok ya, yang dicari itu kalau bisa bagaimana cara mencegah, bukan cuma cara menyembuhkan, hihihi.

Jadi siapa musuh Corona Virus?

Padahal ya, dibalik ancamannya yang mematikan, virus dari COVID-19 memiliki musuh yang sangat sederhana. Ia tidak bisa bertahan dengan sabun dan alkohol.

Jeng jeng jeng jeng!

Kenapa? Karena struktur virus COVID-19 terdiri dari lipid protein yang bisa luruh ketika kena sabun dan alkohol. Sehingga bila kita rajin mencuci tangan, dan tidak sering memegang area yang ada kulit mukosanya, Insyaallah dapat mengurangi penyebaran virus COVID-19 ini ke tubuh kita.

Bila sudah ada gejala seperti flu, yang disertai dengan demam lebih dari 38 derajat Celcius dan kesulitan bernapas, jangan ragu untuk datang ke fasilitas kesehatan yang terdekat untuk diperiksa. Hingga saat ini, sudah lebih dari 137 rumah sakit di Indonesia yang menjadi lokasi rujukan untuk menangani penyakit ini. Jadi kalau sudah merasa sakit, jangan ragu untuk ke puskesmas atau rumah sakit secepatnya.

Pencegahan secara individual, menjadi salah satu pilihan bijak untuk mengatasi penyebaran virus dengan tidak berpergian jauh, menjaga jarak dengan orang lain yang memiliki resiko terkena virus -atau sekarang yang trend menjadi “Social Distance”, menjaga jarak dari orang yang sedang flu atau batuk, dan serta menjaga daya tahan tubuh, dapat menghindarkan kita dari resiko terkena virus.

Selain itu, jangan lupa pelajari adab bersin atau batuk, yaitu tutup hidung dan mulut baik dengan sapu tangan, masker, maupun area lipatan lengan agar si droplets tidak jatuh kemana-mana dan menyebabkan penyebaran ke orang lain.

Gunakan masker bila Anda sakit. (Foto: Akbarjourney)

Apakah kita butuh masker?

Hmm, kalau Anda sehat sih, masker cuma melindungi Anda dalam sekali pakai. Tapi bagi orang yang sakit, masker akan membantu dropletsnya berkumpul di satu tempat, dan mencegah penyebaran penyakit lebih luas lagi.

Soal hand sanitizer?

Kalau habis, ya bisa pake sabun yang dibawa ke mana-mana, mulai dari sabun cair, atau sabun batang yang sudah dipotong kecil-kecil. Jadi ga ada alasan untuk tidak cuci tangan ya!

Tisu toilet?

Hmm, maaf. Meski tisu toilet di Indonesia bisa dipake untuk ngelap mulut abis makan, tetap saja pembelian tisu toilet berlebihan tidak menurunkan resiko Anda terkena COVID-19. Tentu jauh beda dampaknya dengan cuci tangan secara rutin dan menjaga tubuh tetap sehat.

Jaga tubuh, jaga mental hadapi COVID-19

Selain menjaga kesehatan, hal yang paling penting adalah menjaga kesehatan mental, agar tetap siaga, waras, dan tenang dalam menghadapi pandemi ini. Caranya?

Pertama, sadar dan mengakui bahwa virus COVID-19 sudah ada di sekeliling kita, alias jangan denial kalau dirimu tidak akan kena. Sehingga dengan pola pikir “saya juga bisa kena” kita menjadi pro aktif untuk menjaga diri sendiri dan orang lain. Jadi kalau sudah sakit, harus segera dibilang pada petugas kesehatan, jangan disembunyikan dan jangan malu ke rumah sakit. Karena terkadang orang terbiasa untuk meyembunyikan keadaan agar semuanya tampak baik-baik saja, hiks. Padahal kalau dilaporkan, akan ada tindak lanjut yang mempercepat proses kesembuhan.

Kedua, kalau sudah tidak tahan dengan berita yang berseliweran mengenai COVID-19 baik dari pemerintah, media masa, maupun media sosial, just turn it off! Kurangi informasi yang tendensius dan jangan sampai terbawa emosi yang tidak penting dalam menghadapi pandemi ini. Karena prioritas pertama adalah menjaga kesehatan dan mencegah penularan virus ke mana-mana.

Ketiga, kalau kesel sama kebijakan pemerintah, ya mohon maaf karena pemerintah juga belajar. Apalagi seperti yang kita ketahui bersama, Indonesia bukan negara yang siap untuk mengambil kebijakan cepat untuk masalah kesehatan, kecuali untuk investasi, penguatan ekonomi, dan pencitraan. Di titik ini, pemerintah bertanggung jawab untuk menyediakan pelayanan kesehatan yang memadai untuk seluruh warganya, dan mencegah penyebaran virus lebih luas dengan kebijakannya. Mengharapkan pemerintah untuk mencegah penyakit juga bukan sebuah langkah yang bagus untuk diri kita, karena keputusan politk yang mereka ambil sudah diluar dari kendali diri kita, dan biasanya diterapkan untuk hal yang lebih luas.

Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Oh iya yang terpenting, jangan ngeyel dan selalu kompak. Kalau sudah dibilang untuk memeriksakan kesehatan, atau menjaga diri agar tetap di rumah, lakukan saja. Kenapa? Karena saat ini yang dibutuhkan adalah kekompakan masyarakat untuk menjaga diri dan menjaga jarak, agar si droplet dari COVID-19 tidak mudah menyebar.

Selain itu, koordinasi antara lembaga dan tenaga kesehatan dengan masyarakat juga harus selaras, jadi kesehatan masyarakat tetap dalam pantauan pusat kesehatan yang telah ditunjuk untuk menangani COVID-19. Karena hanya pusat kesehatan yang menjadi garda terakhir untuk melumpuhkan virus pandemi ini, bukan bagian pemerintahan yang lain. Garda awalnya siapa? Diri kita, yang berpartisipasi aktif untuk menjaga diri sendiri dan lingkungan kita.

Kalau ada pertanyaan lebih lanjut bisa tanya ke hotline Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, maupun hotline pusat kesehatan lainnya. Jaga diri, berjuang lewati pandemi COVID-19!

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten ini dilindungi!