Kenal film suzana dan teman-temannya yang hadir di kala 80-an? Mungkin tidak asing juga dengan film-film yang bertema “Beranak Dalam Kubur” atau kutipan “pesan sate 100 bungkus” yang kembali menikmati masa kebangkitannya saat ini. Ternyata para kreator film kembali melirik film yang sering dianggap penuh adegan seks eksplisit, kekerasan, sadisme, dan berbiaya rendah ini.

Salah duanya adalah Amer Bersaudara, atau Azzam Fi Rullah (@Azzamalakazam) dan Alzein Putra Merdeka (@dekalzenmer) yang menelurkan film kelas B yang berhasil membuat saya tertawa dari detik pertama. Mereka tergabung menjadi tim sutradara “Amer Bersaudara”, dibawah rumah produksi Kolong Sinema dan untungnya setelah penantian panjang, akhirnya saya berhasil menemui mereka di Jakarta.

Kawasan Taman Ismail Marzuki, dimana saya menyaksikan konyolnya Film B Besutan Amer Bersaudara. (Foto: Akbarmuhibar)

“Wah terima kasih ya mas kehadirannya ke Jakarta, jauh-jauh dari Jogjakarta” ujar Azzam ketika melihat wajah saya yang sudah lelah tertawa gara-gara menonton film yang diputarkan di Kineforum, Jakarta.

Ya gimana ngga tertawa, judulnya saja sudah di luar nalar. Yang pertama ada “Pocong Hiu” yang bererita tentang aksi pocong berkepala hiu meneror sekawanan orang yang mencoba memanggilnya –  karena penasaran.

Film kedua adalah “Rangsangan Gaib” yang bercerita tentang persetubuhan dengan mayat, dan film terakhir yaitu “Kuntilanak Pecah Ketuban” yang bererita tentang seorang wanita mandul yang akhirnya pecah ketuban demi membalas dendam pada suaminya.

Dibalik judul nyelenehnya, ternyata film ini bisa dibilang “memancing tawa segar tanpa harus mengerti ceritanya apa”. Bayangkan saja, opening konyol bak film FTV (yang populer setelah era kepopuleran film kelas B berakhir di Indonesia) ditambah jalur cerita yang tidak masuk akal membuat saya menitikkan air mata, berkat tawa yang tak berujung.

Poster Badass Berani, kegiatan yang menamplkan film B nyeleneh dari Amer Bersaudara dari Kineforum. (Foto: Akbarmuhibar)

“Kalau yang Pocong Hiu itu kita memang bikinnya super instan, berawal dari obrolan gimana kalau ada pocong yang meneror, dan pocongnya setengah hiu. Proses shootingnya sendiri cuma 2 hari mas,” ujar Azzam.

Kalau yang suka dengan sensasi erotis bak film bioskop tahun 2000-an, tontonlah Rangsangan Gaib. Exposure adegan seksual yang tidak eksplisit, ditambah dengan sound effect yang menggoda para penonton, dibungkus dengan cerdas dengan absurdnya jalan cerita. Maka, saya berhasil tertawa kencang di film ini.

Bayangkan saja, seorang wanita yang tidak pernah terpuaskan hasratnya oleh sang pacar, akhirnya membawa mayat mantannya supaya ia kembali bergairah. Aw! Sangat diluar nalar namun bila diwujudkan, ia sangat dekat dengan kenyataan. Ditambah dengan adegan penuh darah karena pertengkaran mereka berdua, cukuplah membuat saya terbahak.

“Rangsangan Gaib sendiri sebenarnya bukan film yang ingin kita buat sebenarnya, namun karena perubahan set dan waktu shooting, akhirnya kita buatlah film ini. Kita kembali casting semua pemain, dan langsung kita buat dalam waktu singkat,” ungkap Azzam.

Tatapan bahagia para penonton film B Amer Bersaudara di Kineforum, Jakarta. (Foto: @kolongsinema)

Lain lagi dengan Kuntilanak Pecah Ketuban. Plotnya yang cukup kompleks dan eksekusi yang lebih baik dari dua film sebelumnya, menjadi penutup yang ciamik dari rangkaian film-film Amer Bersaudara. Dibumbui dengan adegan “Ruang Tunggu Neraka”, sang pemain utama ingin membalaskan dendam sang suami yang memilih selingkuh dengan saudara kembarnya, karena ia tidak bisa hamil.

Akhirnya ia meminta pada penjaga ruang tunggu neraka, untuk mengubah cerita kematiannya – yang konyol dan disiarkan setiap harinya di siaran televisi neraka – menjadi cerita yang lebih berbobot dengan akhir pembalasan dendam yang indah. Dengan sentuhan editing drama kejar tayang Indonesia, serta efek transisi bak sinetron India, sang pemain utama dapat memuaskan keinginan suaminya, memiliki anak.

“Kuntilanak Pecah Ketuban memang paling menipu – dibalik posternya yang bisa memenangkan Oscar – karena dikemas dengan plot cerita yang paling siap, dan didukung dengan tim yang cukup, sehingga bisa lebih oke dibanding dua film sebelumnya,” ujar Azzam.

Lalu apa penyebabnya Amer Bersaudara memutuskan untuk membuat film kelas B? Azzam mengungkapkan kegemarannya terhadap film kelas B ini bermula dengna film-film yang dibesut oleh Nayato Fio Fuala. Sang sutradara yang disebut paling produktif di Indonesia ini, menggabungkan unsur lokal dan misteri yang berbumbu erotisme dalam beberap filmnya. Kemampuan Nayato yang mampu menyutradai film paling serius hingga film paling nyeleneh inilah yang membuat Azzam terpacu membuat karya-karyanya.

Selain itu kehadiran film kelas B dalam kancah sinema di Indonesia juga memberikan jejak-jejak yang menjadi pondasi bangkitnya film Indonesia saat ini. Bahkan, film kelas B juga memberikan sajian menarik bagi para penikmat yang ingin hiburan instan dan masuk akal (meski pada akhirnya tidak masuk akal). Sehingga pasarnya sudah pasti ada, yaitu penonton kelas B.

“Mereka (penonton kelas B) memiliki pandangan yang berbeda terhadap film, contohnya ketika mereka disuguhkan film yang penuh gambar cinematic dan teknik edit yang mumpuni, mereka akan cepat bosan dan lebih tertarik meninggalkan bioskop dibanding meneruskan nonton filmnya,” ungkap Azzam dalam sesi tanya jawab setelah pemutaran filmnya usai.

Sedangkan bila penonton kelas B menonton karya yang sesuai kelasnya, maka mereka akan betah menyaksikannya hingga akhir. Terbukti dari pengalaman Azzam yang berbicara tentang film “The Raid” yang sedang populer saat itu, kepada preman pasar yang sebenarnya (dan tentunya sangat biasa melakukan kekerasan). Pendapat yang ia lontarkan ketika Iko Uwais dengan adegan silat, digabungkan dengan tembak menembak adalah :

“Itu ngga realistis mas, peluru mahal,” ujarnya.

Kami satu studio tertawa mendengar jawabannya.

Azzam melanjutkan, untuk itu ia membuat film serealistis mungkin dengan pandangan kelas B, jadi berantem dengan menggunakan kaleng gas melon 3kg menjadi salah satunya. Karena properti gas tersebut dianggap lebih realistis, dibanding barus menyimpan senjata api yang jelas-jelas dilarang di Indonesia.

Poster Badass Berani! Kegiatan Kineforum yang menampilkan film dari Amer Bersaudara. (Foto: @kolongsinema)

Oh iya, jangan lupa juga dengan film-film ajaib yang dibintangi oleh Suzzana pada dua dekade lalu. Ketika melahirkan di dalam kuburan, atau tangan pemainnya tiba-tiba bisa berubah menjadi capit kepiting karena kerasukan mahluk halus. Mungkin pendapat yang dikeluarkan saat ini adalah “Ini film absurd amat?”. Tapi jangan salah, film seperti ini juga diminati oleh pasar internasional, sehingga dulu sering sekali di ekspor ke luar negeri dengan berbagai bahasa.

Di masa yang akan datang, Amer Bersaudara sudah menyiapkan beberapa film absurd lainnya untuk diproduksi di bawah rumah produksi Kolong Sinema (@kolongsinema). Tentunya dengan teknik low budget dan peralatan yang mumpuni – alias pas-pasan agar kesan film murahannya tetap terjaga- sehingga dapat membangkitkan kembali eksistensi film kelas B di kancah nusantara.

Foto bersama setelah pemutaran film. Azzam, Deka dan Cavin. (Foto: Akbarmuhibar)

Saya pribadi berharap, jangan berhenti memuaskan hasrat film B yang ternyata secara tidak sadar saya miliki, dengan film-film yang “berkualitas” ya! Kuntilanak Pecah Ketuban sudah menjadi film terbaik yang saya tonton, setidaknya untuk kategori film non waras. Tabe!

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten ini dilindungi!