Festival Kebudayaan Yogyakarta 2019 yang digelar selama 2 minggu penuh sejak 4 Juli 2019, akhirnya akan berakhir di tanggal 21 Juli 2019 ini. Cakupan acara yang luas serta berbagai pertunjukan yang mampir ke kegiatan ini, membawa perasaan semakin sukacita menikmati malam yang dingin di Yogyakarta. Jangan sangka, bulan-bulan Juli seperti ini, Yogya bisa mencapai suhu 16 derajat celcius, sama ketika summer di Perth, Australia sana.

Tak perlu jauh-jauh, kegiatan FKY 2019 tahun ini digelar di berbagai tempat, mulai dari Kampung Mataraman, sebagai pusat pasar yang selalu menyala setiap harinya, lalu Museum Sonobudoyo sebagai tempat instalasi seni, hingga di tempat-tempat lainnya yang sulit saya ingat. Kenapa? Karena kemeriahan satu tempat saja saya rasa cukup bagi diri ini yang kurang hiburan, hihihi. Kampung Mataraman sendiri dekat dengan kediaman saya di kawasan Prawirotaman, jadi kenapa tidak menikmati FKY di sini?

Peta tempat lokasi penyelenggaraan FKY 2019 di Yogyakarta. (Foto: akbarjourney,com)

Masuk ke kawasan acara, saya memilih untuk melalui perkampungan yang dekat dengan acara. Menariknya hal sederhana seperti pengaturan parkir, serta keramahan masyarakat di desa tersebut untuk menyambut FKY 2019 terlihat sangat luar biasa. Bahkan jalan-jalan di desa semua dihias, demi menyemarakkan acara, serta memberi petunjuk bagi pengendara motor yang tiba di lokasi.

Menikmati malam berdua di FKY 2019 Yogyakarta, berjalan di bawah temaram lampu di tengah persawahan (foto : akbarmuhibar)

Berjalan hampir 100 meter melewati persawahan, saya akhirnya sampai ke gerbang Festival Kebudayaan Yogyakarta 2019 yang penuh dengan cahaya. Banyak orang yang berhenti sejenak untuk mengabadikan momen mereka hadir di tempat ini. Terutama para anak muda yang dari tadi menggenggam telepon pintar mereka, hingga tertawa kecil menikmati candaan teman-teman mereka.

Keramaian di zona craft, FKY 2019 Yogyakarta, Monggo yang mau tumbas barang-barang unyu, silahkan lihat-lihat. (Foto : akbarmuhibar)

Barang-barang unyu yang masuk dalam spotlight saya ketika berjalan dalam kawasan craft di FKY 2019 Yogyakarta. (Foto: akbarmuhibar)

Yang pengen belajar seni grafis dan cetak dengan teknik cukil, bisa mampir juga di stand craft FKY 2019 Yogyakarta. (Foto : akbarmuhibar)

Di kawasan ini sendiri terdapat area untuk kerajinan yang dibuat oleh masyarakat. Mulai dari pakaian, karya kreatif yang berasal dari seluruh kota dan kabupaten di DI. Yogyakarta, hingga produk-produk currated yang diminati oleh para pencinta craft. Duh, yang gini-gini membuat saya pengen segera melihat produk dan barangkali bisa menumbas (membeli – Bahasa Jawa campur Indonesia) mereka satu persatu.

Penjual mainan jadul di FKY 2019 Yogyakarta. Beragam dan murah-murah lho~ (Foto: akbarmuhibar)

Lalu di bagian kedua, saya melihat kawasan kuliner yang dipenuhi oleh stand jajanan tradisional maupun makanan modern, yang tersebar di beberapa joglo di Kampung Mataraman. Saat melangkah ke kawasan ini, saya langsung disambut asap dari berbagai daging yang dibakar, hingga padatnya masyarakat yang mengantri untuk membayar makanan mereka di beberapa kasir yang disediakan panitia.

Stand kuliner yang menggoda dalam hal bakar-bakaran. Hmmmm, FKY 2019 Yogyakarta emang menawarkan hal yang luar biasa. (Foto : akbarmuhibar)

Ternyata pagelaran FKY 2019 kali ini juga mendukung gerakan meminimalisir penggunaan plastik, terlihat dari kemasan yang pada umumnya terbuat dari kertas, seruan untuk memisahkan sampah, hingga keberadaan tong sampah yang bisa ditemui dalam waktu singkat dan radius yang dekat.

Contoh baik untuk memisahkan sampah sejak tangan pertama. FKY 2019 Yogyakarta juga mendukung kemasan yang ramah lingkungan. (Foto : Akbarmuhibar)

Padatnya malam tersebut ditambah juga dengan beberapa penampilan penyanyi di tiga tempat berbeda. Panggung pertama ada di kawasan gerbang FKY 2019, panggung kedua ada di antara kawasan craft dan kuliner, panggung ketiga merupakan panggung utama yang ada di utara kawasan. Namun sayang saat saya datang, panggung utama ini kosong – tanpa adanya penampilan satu apapun.

Begini nih, keadaan panggung utama ketika kedatangan tamu. Penuh, padat dan sesak dengan ratusan pasang mata pengunjung FKY 2019 Yogyakarta. (Foto : akbarmuhibar)

Tapi di panggung utama inilah dimana kreasi para desainer bermain. Area depan panggung yang kosong melompong diberikan sentuhan spotlight yang menari-nari diatasnya, memberikan kesempatan untuk para pengunjung mengabadikan momen mampir di FKY 2019. Selain itu, beberapa pohon pinus yang tinggi, juga diberikan aksen warna yang akan berganti-ganti setiap beberapa detik, yang menjadi nilai estetik spesial di mata saya.

Permainan warna di kawasan panggung utama FKY 2019 di Kampung Mataraman, Yogyakarta. (foto: akbarmuhibar)

Beberapa instalasi bambu yang seru dijadikan tempat berfoto di FKY 2019 Yogyakarta. (Foto: akbarmuhibar)

Oh iya, karena tujuannya ke FKY 2019 di Kampung Mataraman ini untuk jajan, berikut beberapa produk yang berhasil saya tumbas (beli) dari lokasi ini.

Tutbeg

Jejeran produk di stand craft, FKY 2019 di Kampung Mataraman, Yogyakarta. (foto: akbarmuhibar)

Dikala saya berkeliling stand, saya langsung ingat dengan teman saya – Gladhys – yang bercerita bahwa ia membeli tutbeg dengan harga “seikhlasnya”.

“Beneran Dhys?” Ujar saya sambil menimang tutbeg barunya dengan kualitas bagus.
“Beneran, dateng aja ke FKY,” ujar Gladhys.

 

Keramaian di kawasan stand craft, FKY 2019 Yogyakarta. Jangan lupa pake jaket gengs, dingin. (Foto: akbarmuhibar)

Akhirnya bertemulah dengan stand yang cukup ramai dengan orang-orang yang sedang memilih tutbeg. Saya memastikan kembali kepada penjaga apakah benar ia menjual tutbeg dengan harga seiklasnya? Ketka ia menjawab iya dan mantap mengangguk, saya tidak berpikir dua kali untuk membeli beberapa tas, sambil menyerahkan beberapa lembar uang untuk membayarnya. Ini salah satu tutbeg yang bisa saya tumbas.

Tutbeg yang saya tumbas dengan harga seikhlasnya di FKY 2019 Yogyakarta. (foto: akbarmuhibar)

Buku Nyinau Maca Sastra Jawa – 1981

Belajar Aksara Jawa menjadi kesukaan saya, sehingga buku-buku yang menggunakan aksara tersebut akan menjadi sasaran tumbas selanjutnya. Gayung bersambut. Ketika saya menemukan stand yang menjual barang-barang lawas, beruntung saya menemukan buku antik yang menggunakan aksara Jawa untuk menulis isinya. Wah, wah, wah, menarique! Langsung saja saya baca isinya.

Ternyata buku ini menawarkan cara membaca sastra Jawa dari tingkat dasar. Mungkin meski bukunya bertuliskan jilid 4, kemampuan membaca saya sudah bisa digunakan pelan-pelan di buku ini. Hmmm~ saatnya proses penumbasan dilakukan.

“Mas berapa harga buku ini?” Tanya saya sambil memperlihatkan bukunya.
“Dua puluh ribu aja mas,” ujarnya sambil melihat-lihat isi buku.
“Jilid sebelumnya ada ga mas?”
“Wah, sulit mas, mas dapet itu aja udah untung-untungan.”

Tidak pikir panjang, langsung saya beli buku tersebut untuk memperkaya khazanah membaca saya. Mau tau seperti apa bukunya? Tuh lihat di bawah.

Nyinau Maca Sastra Jawa, salah satu buku keren yang saya temukan di FKY 2019 Yogyakarta. (Foto : Akbarmuhibar)

Isi dalam buku Nyinau Maca Sastra Jawa – 1981, barangkali di FKY 2020 Yogyakarta ada buku yang lainnya. (foto : akbarmuhibar)

Meski hanya dua benda saja yang resmi saya tumbas, tetap saja Festival Kebudayaan Yogyakarta 2019 tetap menjadi momen saya bisa bersenang-senang sejenak dari pekerjaan. Namun tetap saja ada teman saya yang menggerutu, karena FKY lalu jauh lebih menarik karena banyak penampilan budayanya, sedangkan tahun ini lebih didominasi dengan kulineran. Jadi FKY itu Festival Kebudayaan Yogyakarta, atau Festival Kuliner Yogyakarta?

FKY itu Festival Kebudayaan Yogyakarta atau Festival Kuliner Yogyakarta ya? Hmm, stand makanannya lebih rame dibanding stand craftnya~ (foto : akbarmuhibar)

Ya, tetap saja tergantung masing-masing pengunjung yang datang. Pastinya ketika mereka bahagia entah itu dari makanan atau dari budaya, tetap saja dihitung dengan keceriaan dan sukses bagi panitia acara bukan? Pokoknya semua bergembira ria dengan suasana Yogyakarta. Semoga FKY 2020 nantinya bisa memberikan kejutan baru ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten ini dilindungi!