Perjalanan Akbar Journey kali ini berhenti di sebuah desa yang ada di bagian ujung Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, bersama dengan teman-teman yang tergabung dalam workshop Borobudur dalam Potret Lanskap Budaya yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization alias UNESCO. Tempat yang kami kunjungi adalah sebuah sanggar yang jauh di atas bukit bernama Sanggar Saking Ndene, Desa Giri Tengah, Borobudur.

Disambut dengan hujan, Sanggar Saking Ndene membawa saya pada memori masa lampau. Tepatnya pada tahun 2015, saya yang masih muda dan tampan (hingga saat ini) juga duduk di tempat yang sama, memandang bukit yang sama di dalam kegiatan Borobudur Youth Forum 2015. Saat itu, kakak-kakak mentor mempersilahkan masuk para peserta yang sudah berkeliling Borobudur, di sebuah rumah yang masih unfinished alias belum di plester. Seketika kami disambut dengan tembang gamelan, dan sebuah senyuman yang merekah dari sesosok pria berbaju beskap lengkap. Inilah Pak Tijab, sang empunya sanggar.

Sorot matanya yang bersemangat menyapa kami, hingga ia melakukan pertunjukan wayang langsung di depan rumahnya sendiri berlatar barisan perbukitan yang berjajar. Suaranya lantang dan tegas, menjadi sebuah bukti Pak Tijab yang sudah berkarir sebagai dalang di separuh usianya. Mungkin saat itu beliau berumur 70 tahun.

Tentu, saya tidak mengerti apa yang beliau sampaikan. Tapi tetap saja pertunjukan itu menjadi pertunjukan wayang yang spektakuler di desa itu.

Tempat pertunjukan wayang tahun 2015 yang kini berganti jadi tempat angklung dan beberapa gong. (foto : Akbar)

Tapi tempat yang dahulu saya datangi, kini sudah berubah banyak. Panggung mendalang yang spektakuler ini sudah tidak digunakan lagi, dan halaman rumah mulai rimbun ditutupi rumput tinggi. Mungkin rasanya tidak seramai dahulu, karena tamu yang hadir tidak begitu banyak. Ditambah kawasan Magelang tampaknya kurang ramah kepada kami karena panas dan hujan mendadak menghiasi perjalanan dari pagi hari.

Namun jabat tangan dan pancaran Pak Tijab tetap sama, penuh semangat hingga tahun 2018.

Saya tidak tahu, apa yang membuat saya menuliskan bagian ini. Karena sebelumnya tulisan ini diniatkan sebagai cerita yang ceria dengan judulnya yang sangat click bait. Kenyataannya berbeda karena setelah dibaca ulang, paragraf awal sangat melankolis.

Mungkin karena saya diingatkan cerita perjuangan Pak Tijab sang dalang dan Bu Tijab sebagai seorang sinden, dalam mewujudkan cita-citanya hidup di jalur seni yang dianggap orang sebagai jalan tanpa masa depan.

Ngobrol panjang tapi harus dipotong-potong karena Pak Tijab memang suka cerita panjang. (Foto : Akbar)

“Tau artinya Saking Dene? Saking Dene itu Bahasa Indonesianya apa ya? Saya juga bingung,” ujar Pak Tijab.

Kami, para peserta workshop langsung tertawa mendengar ucapan Pak Tijab.

Mba Vero, pendamping kami dalam kegiatan workshop langsung menimpali, bahwa arti dari Saking Dene ini adalah “Apa Daya”. Alias – karena tidak ada pilihan lain, kami tetap berjuang meskipun tidak ada apapun lagi yang bisa dijadikan modal – perjalanan pahit yang dialami oleh pasangan suami istri ini.

Pak Tijab yang mengaku sudah 56 tahun terjun di dunia seni, memulai usahanya dari bawah. Bahkan dari awal karirnya terjun di dunia seni, baru enam tahun terakhir ia merasakan kebahagiaan dan kecukupan sebagai seniman. Meski tidak setenar artis papan atas yang punya konser dimana saja, dengan gamelan ia dapat menghidupi keluarga, anggota pengrawit*, para sinden, hingga membuat masyarakat desanya sejahtera.

“18 tahun yang lalu, mana ada turis Borobudur yang mau main di desa paling ujung seperti ini? Mereka mau main ke desa ini saja seperti mimpi. Tapi sekarang semua berubah, bahkan saya mampu memanggil mereka datang ke rumah dan melihat saya bermain di rumah,” ujar Pak Tijab bersemangat.

Rumah Pak Tijab yang kini menjadi tempat pertunjukan wayang dan belajar gamelan. Pak Tijab berbaju hitam menunggu kami dengan gembira sejak jam 11 siang, padahal kami baru sampai jam 2 siang. (Foto : Akbar)

Bahkan dulu di desa Giri Tengah, banyak investor yang ingin membeli tanah di kawasan tersebut dengan harga yang sangat tinggi. Tujuannya jelas, untuk membuat berbagai infrastruktur pendukung pariwisata Borobudur. Saat itu pula, Pak Tijab menjadi salah satu orang yang tidak setuju dan mulai mengajak masyarakat untuk berusaha mandiri dan menggerakkan ekonomi desa. Namun tetap saja ada pihak-pihak yang bertentangan dan memilih menjual tanahnya dengan harga tinggi. Walhasil rumah mereka kini masih ada, namun tanahnya sudah milik orang lain.

Menjadi tamu di kampung sendiri.

Meskipun bukan perangkat desa, ataupun ketua RT maupun RW, Pak Tijab tidak mau hal yang sama terulangi lagi. Akhirnya beliau mengajak masyarakat membuka usaha sendiri termasuk dari bidang kesenian. Mulai dari reog, shalawatan, topeng ireng, hingga wayang golek, semuanya lengkap dikumpulkan untuk memberikan kesadaran bahwa apa yang sudah mereka miliki sejak lama, dapat menjadi sumber ekonomi yang menguntungkan.

Usaha juga terus berkembang, hingga Pak Tijab dan Bu Tijab mampu membuat berbagai kostum kesenian, karena pertunjukan seni butuh banyak baju kostum. Bahkan karena ketekunan mereka, usaha tetap berlanjut hingga saat ini hingga mereka mampu membawa masyarakat untuk membuat tempat-tempat wisata baru. Desa Giri Tengah akhirnya ramai dengan wisatawan yang hadir dari berbagai tempat.

Pak Tijab? Tetap bertani, menjahit kostum, serta bersiap untuk tampil di hotel setiap minggunya.

“Sekarang Pak Tijab sudah main reguler dikontrak selama satu tahun setiap hari minggu di hotel. Jadi jangan heran kalau ketemu saya sudah susah ya,” canda Pak Tijab.

Saya percaya hasil yang diraih Pak Tijab merupakan buah dari niat usahanya dalam memajukan masyarakat di kampungnya. Prinsip ini menjadi semakin berharga, dimana saat ini tidak jarang terdengar banyak kelompok dibuat untuk memenuhi hasrat pribadi. Ia rela terus bergerak dan maju, demi kampungnya.

Sajian teh dan gula setoples di tengah meja menemani bincang hangat di suasana yang dingin. (Foto : Akbar)

Setelah disuguhkan teh hangat – yang gulanya bebas ditakar karena Bu Tijab membuka toples gula di tengah meja- kami ditawari untuk bermain gamelan yang sudah tersusun rapi di bagian depan sanggar.

Banyak wisatawan yang mengeluh belajar main gamelan itu susah, bahkan ada yang belajar sampai 4 bulan tidak kunjung bisa. Tapi saya sudah set pelajaran main gamelan hanya dalam satu menit saja. Mau coba?

Pertanyaan inilah yang menantang saya dan teman-teman yang sebelumnya hanya terduduk di kursi, kini menjadi semangat untuk mengayunkan palu kayu ke atas lempengan besi bernada ajaib. Seluruh peserta mulai bergerak ke tempat duduk masing-masing. Dihadapan saron, kendang, dan gong yang sudah dipersiapkan Pak Tijab,  kami mulai khusyu mendengar penjelasan bermain gamelan.

2-6-2-6

2-5-2-5-2-5-2-5

2-6-2-6-2-6-2-6

2-1-2-1-2-1-2-1

2-5-2-5-2-5-2-5

Dengan pengarahan singkat membaca angka di atas, tidak sampai satu menit, kami sudah menggerakkan palu bersamaan dan menghasilkan irama yang indah.

Tiba-tiba Pak Tijab langsung memainkan gong besar, dan Bu Tijab dengan lincah ikut bermain sambil bersinden. Suasana menjadi meriah ketika tempo nada dipercepat dan nyanyian sinden makin keras. Kami semua asyik menikmati pukulan demi pukulan yang mungkin tidak akan terlupakan.

“E ya e….e…” teriak Pak Tijab menghentikan permainan gamelan kami.

Dengan senyum yang lebar, beliau berkata. “Gampang kan main gamelan?”

Kami merajuk meminta lagu tambahan, namun karena hari mulai senja kami harus kembali ke base camp di Balai Konservasi Borobudur, sebelum akhirnya pulang.

Pak Tijab dan ekspresi saya yang terlalu senang bisa bermain gamelan lagi setelah sekian lama. (Foto : Akbar)

Di perjalanan pulang, Mba Vero dan saya berbincang mengenai kegiatan yang ada di Sanggar Saking Ndene.

“Pak Tijab itu kalau cerita panjang, makanya harus dipotong-potong biar cepat. Saya sampai hafal ceritanya berasa kaset kalau beliau cerita. Tapi memang beliau tidak mudah melupakan jasa orang lain, sampai suka disebut-sebut terus, padahal sudah dibilang jangan diceritain lagi. Tapi tetap saja seperti itu,” ujar Mba Vero.

Kami tertawa, sambil menembus hujan menuju Yogyakarta.

*pengrawit : pemain alat karawitan – alat musik tradisional dan gamelan termasuk didalamnya.

 

24 Replies to “Jurus Bisa Main Gamelan Dalam 1 Menit di Sanggar Saking Ndene”

  1. Seru! Dulu waktu kecil saya sempat ikutan sanggar gamelan dan emang gitu cara perhitungannya pakai angka-angka. Kalau sudah keasyikan, suka lupa waktu dan heboh mainan terus hahaha

  2. Wow Pak Tijab gaya banget dah sok sebok yaa, perjuangannya itu loh, sesuatu pisan. Btw ngeliat rumahnya njawa banget, jadi kangen rumah si mbah euy.
    Eh, aku gagal pokus sama T shirt Pak Tijab, gaolnya….keren..
    Pokoke, sukses buat Pak Tijab ya, pankapan pengen donk Pak belajar gamelan eeaa

  3. Paling suka kl dtg ke suatu daerah dab saat pulang kita belajar sesuatu dr daerah tsb… mdh2an ada waktu dan kesempatan buat belajar gamelan disana. Tfs mas akbar

  4. Asyiknya main gamelan. Dulu mah belajar bentar waktu sekolah. Terus sekarang lupa deh, hehehe. Karena dah nggak main lagi

  5. waktu masih ngantor di manggala wanabakti, di gedung kemenhut ada latihan gamelan setiap sore, yg ikut banyak banget … bule2 yg masih muda dan mbah2 sepuh yg masih semangat latihan

    sempet pengin ikutan, eh keburu resign

  6. Aku koq ketawa ya pas baca Pak Tijab sendiri ga tau bahasa Indonesianya “saking ndene”. Selalu salut sama orang2 yang mau belajar dan melestarikan kesenian tradisional Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten ini dilindungi!