Mantan Manten, apakah dari mantan jadi penganten atau dari penganten jadi mantan?

Mungkin itu bayangan saya ketika menjejak ke bioskop di sore itu. Warna pink dari poster yang terpampang di depan studio memberikan kesan kuat bahwa film ini tentang cinta. Kesan elegan muncul ketika sosok pemain utama, Arifin Putra dan Atiqah Hasiolan menggunakan pakaian pesta, berhasil menyiratkan sedikit kesan bahwa film ini tentang pasangan yang hidup bergelimang kemewahan.

Retorika kuat yang berhasil menyembunyikan pandangan saya terhadap film ini. Menyembunyikan tentang kesempurnaan dalam keadaan sempit yang benar-benar ingin disampaikan.

Tarik nafas panjang dulu.

Poster Mantan Manten yang berhasil menyembunyikan semuanya. (foto @akbarmuhibar)

Di beberapa adegan pertama, terlihat sebuah setting kehidupan sempurna. Sang pemain utama, Yasnina Putri (Nina) dilamar oleh sang kekasih dalam malam yang bahagia. Namun, kenyataan berubah dalam waktu 2 jam. Bisa dibilang banyak yang membuat saya suka dengan film -yang sebelumnya saya sederhanakan dengan film cinta bergelimang kemewahan- yang dibuat oleh visinema ini.

Nina, terpaksa tinggal di kampung jauh dari kota dan meninggalkan dunia metropolitannya, dengan semua kemewahannya. Tujuannya demi menjual rumah yang ia beli, yang ternyata ia menemukan tantangan lainnya. Untuk bisa menjual rumah tersebut ia harus tinggal di rumah selama 3 bulan dan belajar menjadi asisten Maryanti, sang pemaes.

Tiket nonton bareng Mantan Manten (foto @akbarmuhibar)

Paes, kata-kata yang samar saya ingat kini terulang kembali dalam sajian gambar yang luar biasa. Kedekatan pernikahan dengan paes bagaikan rendang dan daging sapinya, bukan sekedar bumbu santannya. Sang pengantin wanita dalam adat Jawa hanya boleh keluar bila riasannya telah siap, dan paes bukan sekedar hiasan saja melainkan kecantikan paripurna dari wanita.

Tidak hanya sekedar make-up saja, melainkan berbagai doa-doa juga terpanjatkan dari sang pemaes, yang ternyata dilakukan turun temurun oleh generasi ke generasi. Bahkan ketika saya tanya kepada sahabat yang memang mengerti kebudayaan Jawa, pemaes yang ahli biasanya memiliki darah keraton di dalamnya. Mereka juga menjalani pelatihan yang luar biasa sebelum dianggap menjadi pemaes yang dapat memberikan keajaibannya, dalam detik-detik menjelang pernikahan.

Jujur saya merinding ketika mendengar kisah ini. Big Applause untuk Mantan Manten yang bisa mengangkat kebudayaan jawa dalam film mereka.

Tentunya sajian paes Jawa dengan wanita metropolitan ini mengingatkan saya pada satu kata yang terus terngiang, yaitu pulang.

“it’s okay not to be okay”

Sudah lama kita tidak pulang kepada jati diri kita, karena sudah banyak topeng yang dipasang demi tetap bertahan di dunia yang keras. Sudah lama kita tidak beristirahat dengan orang-orang di sekeliling kita, dan menyadari bahwa mereka berharga. Sudah lama pula kita tidak memaafkan diri kita, dalam kesalahan yang pernah kita buat sebelumnya.

Sedikit pula orang yang menyempatkan diri untuk pulang, karena sudah jauh perjalanan yang ia jalani. Padahal sebaik-baiknya tujuan yang kita kejar hanyalah untuk pulang. Baik dalam kehidupan pribadi, maupun dalam kehidupan berkeluarga. Hari ini maupun nanti.

Sudah lama saya menantikan kisah kebudayaan berbalut makna seperti ini, muncul dalam khazanah film indonesia. Film Mantan Manten benar-benar membantu merekam budaya sehingga dapat disaksikan generasi selanjutnya. Bahkan bisa dibilang, riset dalam pembuatan film ini sangat luar biasa telitinya. Mulai dari properti adegan biasa hingga kain yang mereka gunakan ketika upacara berlangsung.

Keluar bioskop, saya bergumam. Apakah besok saya bisa menikah dengan adat Jawa?

Ah, kekayaan budaya Indonesia memang penuh makna.

Nonton Bareng Mantan Manten di Yogyakarta, 4 April 2019 (Foto Pieta Dhamayanti @pacarkecilku)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten ini dilindungi!