Serba cepat, serba praktis, begitulah jargon-jargon yang selalu diulang pada zaman yang disebut “modern” ini. Semua orang satu suara, ingin semua cepat jadi, cepat selesai, dan cepat beralih ke pekerjaan berikutnya. Akibatnya, perlahan kita lupa akan adanya proses, bak kata pepatah “sedikit-sedikit akan menjadi bukit”, “pelan-pelan asal selamat”, dan berbagai pepatah lainnya yang mengingatkan kita semua ada proses yang harus dilalui dalam mencapai tujuan.

Mungkin ketika Anda membaca paragraf di atas, kerenyit dahi seketika terbit. Bisa jadi muncul seribu pertanyaan, terutama yang seperti ini: Teknologi bukannya dibuat supaya semuanya berlangsung lebih cepat? Kalau ada yang cepat kenapa harus lama-lama? Ya, saya sangat memahami sekali karena kita hidup dimana siapa cepat dia yang dapat.

Namun kata-kata Kang Pepih Nugraha, dalam video Teknik Dasar Menulis untuk Blogger untuk kegiatan Danone Blogger Academy 2019, kembali mengingatkan saya. Beliau bercerita bahwa menjadi seorang blogger harus banyak berlatih untuk mampu menghasilkan tulisan yang baik. Seketika, saya ingat dengan kegiatan kelas aksara Jawa. Dimana saya harus dilatih kembali untuk mengenal kata proses dan kesabaran, sambil mengenal kebudayaan yang ternyata sangat ramah lingkungan.

Banyu Mangsi nama kelompoknya, atau arti harafiahnya adalah air tinta. Kegiatan utama kami adalah diskusi dan belajar aksara Jawa, sambil mengingat kembali kekayaan lokal yang kini sudah terpinggirkan. Sesederhana mengenal waktu menanam padi, hingga kebiasaan tidur menggunakan kasur kapuk yang ternyata lebih sehat. Anggotanya bercampur, antara kalangan tua dan kalangan muda, dan hanya saya satu-satunya anak ‘Jakarta’ yang hadir di kelompok yang sering berkumpul di kawasan Sendowo, Yogyakarta.

“Buat apa kamu masuk kelompok aksara Jawa bar? Bukannya buang-buang waktu saja?” tanya seorang teman dekat.

Bukan satu atau dua kali saya menerima pertanyaan heran seperti itu. Padahal alasan saya sederhana, kelas ini kembali membawa saya menghargai proses sambil menenangkan jiwa sambil mengenal kekayaan budaya nusantara. Karena secara tidak sadar, ketika mengikuti kelas ini saya harus mengukir aksara Jawa berupa hanacaraka dengan teknik yang tepat. Tidak sekedar benar, melainkan juga harus indah.

“Belajar menulis aksara Jawa itu bagaikan melukis, kalau cakriknya (gaya tulisannya) sudah hafal, semua akan terasa nikmat, bisa ketagihan,” ungkap Pak Jo, salah satu anggota kelompok kami yang sudah kami anggap guru sendiri.

Saya belajar menulis di atas daun lontar. Sabar, penuh kehalusan dan tidak boleh terlalu bertenaga agar lontar tidak berlubang. (Foto : akbarmuhibar)

Kegiatan berkumpul setiap malam Selasa, juga merupakan waktu yang tepat untuk bermeditasi untuk saya. Sembari mendengar fakta mengenai kearifan lokal yang sudah ada di belahan nusantara dalam menjaga alam sebelum kolonialisme datang, Walhasil, dalam proses belajar aksara Jawa di bulan pertama sangat terasa sulit. Namun setelah 10 bulan belajar tangan saya kembali menjadi lentur, tulisan tangan saya jauh lebih rapi.

Minggu ke minggu, tubuh saya menikmati proses menggoreskan pensil tebal halus yang digerakkan oleh tangan. Bahkan mulai melatih diri untuk mampu menulis di atas daun Lontar, kertas tradisional yang kini sudah mulai jarang ditemukan karena proses pembuatan lembaran ini hingga satu tahun lamanya.

Tidak hanya persoalan latihan menulis saja, proses belajar ini mulai membantu saya menemukan kepribadian yang baru. Lebih sabar, lebih mampu mengungkapkan keinginan yang sebenarnya, hingga bisa mengambil keputusan lebih tepat. Hal terpenting, saya mengaktualisasikan diri melalui hal-hal positif yang saya sukai, tanpa harus menggubris pendapat miring orang-orang tentang belajar kebudayaan.

Sukses menulis nama sendiri di atas daun lontar. (Foto: Akbarmuhibar)

Lalu sebenarnya apa yang terjadi dengan kesehatan saya? Semenjak berusaha berlatih menulis bersama teman-teman, saya merasa mental semakin sehat, jauh dari keadaan pertama kali tiba di kota Yogyakarta saat hijrah.

Karena apa yang saya lakukan di kelas ini sangat jauh dari pekerjaan saya selama 4 tahun terakhir yang selalu memanfaatkan komputer dan melihat layar. Apalagi dipenuhi dengan deadline, dan target kuantitas, bukan kualitas. Sama seperti robot, berkarya tanpa rasa. Sehingga waktu sudah habis untuk bekerja, dan sulit untuk mengaktualisasikan diri dengan hal-hal yang digemari.

Ya, kesehatan mental kini menjadi hal menarik untuk dibahas, selain dengan isu kesehatan lainnya seperti sampah, kesehatan fisik dan nutrisi. Dimana setiap manusia akan sehat mentalnya dengan bersosialisasi dengan orang lain, mampu untuk mengenal jati dirinya, serta mengetahui bagaimana caranya mengaktualisasikan diri.

Seperti mengukir aksara Jawa di daun lontar yang setiap goresannya abadi hingga 100 tahun lamanya. Proses mengenali diri juga harus penuh kesabaran, latihan, dan mau jujur keadaan perasaan pribadi. Sehingga apapun yang kita kenali dan sudah ada dalam diri sendiri, bisa menjadi kemajuan dalam menjaga diri kita.

Layaknya ungkapan: Jiwa yang sehat akan terlahir dari tubuh yang sehat, maka memulai kehidupan yang sehat jiwanya harus dilandasi oleh pola hidup yang sehat, dan latihan untuk mengenali diri dengan sabar. Karena semua butuh proses dan keinginan yang kuat dari diri sendiri, untuk kebaikan di masa depan.


Tulisan ini sudah diterbitkan terlebih dahulu di Kompasiana.com dengan judul yang sama, sebagai proses pelatihan Danone Blogger Academy 2019 dari Danone dan Kompasiana.com di Bali, 29 Agustus 2019 – 1 September 2019. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten ini dilindungi!