Karantina Corona di Wisma Atlet Jogja yang Ahay!

“Cling,” terdengar suara notifikasi dariĀ Whats App dari lab rumah sakit.

Akhirnya aku divonis terkena virus Covid-19, padahal selalu menjaga jarak dan mematuhi 3M. Ya, sebenarnya tidak ada yang tahu sebenarnya dari mana dapatnya, tapi aku terkena tracing dari salah satu temanku yang sebelumnya berkunjung ke kampus dan mendapatkan gejala Covid-19 yang tidak dia ketahui dari mana awalnya. Akhirnya aku yang waktu itu juga berkunjung ke kampus karena harus bayar SPP juga terkena getahnya. Saatnya menikmati karantina di Wisma Atlit Jogja.

Eits, Wisma Atlit Jogja bukan nama resmi ya, karena itu hanya imajinasiku saja. Lokasi asrama Baciro UGM yang sangat dekat sekali dengan Stadion Mandala Krida Yogyakarta meningkatkan imajinasiku dan membayangkan tempat ini seperti Wisma Atlet, tapi ala Yogyakarta. Gedung Asrama Dharmaputra Baciro UGM sendiri ternyata lebih tua dari stadionnya, karena dibangun pada tahun 1950-an. Tapi tenang saja fasilitasnya oke punya kok!

Karena aku lagi pengen bercerita dengan gambar, nikmatilah beberapa koleksi gambar yang ku ambil selama karantina 11 hari di asrama ini ya! Tapi bukan mengajak ikutan karantina juga, namun menyukuri bahwa ini semua sudah berlalu dan aku sudah kembali sehat sentosa. Alhamdulillah.

Pemeriksaan pertama saat itu, aku kena tracing dari temanku. Saat itu ada kartu keluhan tracing. Mas penjaganya nanya “mas keluhannya apa?” Setelah membaca seluruh keluhannya, aku hanya bilang “Mas, centang aja semuanya.” (Akbarmuhibar)
Eng, ing, eng, selamat datang di Wisma Atlet Jogja alias Asrama Dharmaputra Baciro. Kamarku ada di kiri atas yang jendelanya kebuka. Kata Mas Ari, kamarku yang paling bagus viewnya! (Akbarmuhibar)
Dan inilah Stadion Mandala Krida, pemandangan dari ruangan 302 di Asrama Baciro. Setiap pagi melihat stadion ini selama 11 hari kadang membuatku kangen menikmati keadaan di sini. Anginnya kencang dan pemandangannya selalu hijau. Ciamiklah! (Akbarmuhibar)
Bagian resepsionis asrama, tempatku setiap hari ngobrol dengan Mas Ari, Mas Febri, dan Mas Danang. Tempat ini juga jadi sumber air panas, teh, jahe, dan minuman hangat lainnya. (Akbarmuhibar)
Awal-awal karantina di Wisma Atlet Jogja, rasanya sedih karena harus dihinggapi Covid-19, tapi berusaha tetap positif. Karena bukan hanya sakit badan, mentalnya juga diuji pada tahapan ini. Akhirnya cuma bisa bersyukur karena di support orang-orang dekat untuk melewati proses karantina ini. (Akbarmuhibar)
Salah satu support yang diberikan program studi kepada mahasiswanya yang sedang sakit keras, uhuk! Alhamdulillah selalu didukung secara mental dan diberikan obat secara rajin. Untuk makanan juga selalu dikasih buah buat camilan dan obat kumur-kumur. Makasih banyak Mba Nova yang selalu repot di prodi atas bantuannya! (Akbarmuhibar)
Tiap hari di asrama, aku disuguhi makan tiga kali sehari dengan menu yang beragam dan menggugah selera- tentunya setelah aku hias dengan piring yang indah ini. Karena lidahku tidak bisa merasakan apapun, akhirnya mataku dulu yang harus kenyang untuk mendorong nafsu makan. Terima kasih pada Mas Danang yang mengganti karbohidratku dari nasi jadi kentang! Aku senang! (Akbarmuhibar)
Deretan obat-obatan yang harus digunakan rutin tiap hari pas karantina. Mulai dari obat mata, karena mataku makin guatel, vitamin C, antiseptik untuk latihan hembus nafas, aqua maris untuk semprot hidung, minyak kayu putih untuk melatih penciuman, dan si susu beruang supaya meningkatkan daya tahan tubuh. Jangan lupa juga masker dan tisu untuk kebersihan. (Akbarmuhibar)
Tiap pagi harus jalan kaki menikmati udara pagi dan mendapatkan vitamin D yang cukup. Biasanya aku jalan kaki di bagian depan asrama, sambil mendengarkan musik atau sekedar menelepon dengan keluarga di rumah. (Akbarmuhibar)
Nah, ini lintasan di halaman depan untuk jalan kaki. Kadang-kadang juga harus mengajar secara online melalui video dari depan halaman ini. Menyenangkan dan menenangkan. Kalau bosen aku suka duduk di ruang satpam yang ada di sebelah kiri gambar, sambil ngeliatin kendaraan yang hilir mudik di depan gedung asrama. (Akbarmuhibar)
“Biarin Jelek, yang Penting Bisa Bikin Kangen,” sebuah hiasan dinding di tangga asrama yang membuatku makin pede dengan diri sendiri~ eyyyy hahahaha (Akbarmuhibar)
Halaman belakang Asrama Baciro. Tempat ngejemur baju yang sangat ciamik dan di belakang asrama ini ada lapangan basket. Jadi dribel tiap hari buosss! (Akbarmuhibar)
Inilah tempat berinteraksi pagi dan sore, lapangan basket dengan 3 bola yang ga ada benernya! Hahaha. Bola-bola basket yang sudah benjol sana sini menjadi teman bermain yang asyik. Kadang di lapangan ini aku juga lari sore, tapi karena saat itu sering mendung bukan segar malah jadi masuk angin setelah olahraga, huft. (Akbarmuhibar)
Tiap hari harus rajin cuci hidung, atau nose irrigation. Aku sering menanggap ini proses pembersihan “Selokan Mataram” supaya kondisi anosmia yang aku alami semakin membaik. Rasanya jozz. (Akbarmuhibar)
Tiap pagi, penghuni asrama akan dipandu oleh Mas Danang dan Mas Ari untuk mengukur kadar oksigen, tensi, serta suhu setiap harinya. Tentu saja setiap orang di asrama dibawah supervisi dokter supaya kesehatannya tetap terjaga. (Akbarmuhibar)
Akhirnya di beberapa hari terakhir, aku bersama teman-teman di asrama main uno di meja tengah asrama. Tentunya kegiatan yang menyenangkan seperti bermain dan tertawa dapat meningkatkan imun ketika melawan covid-19 kala masa karantina. Ki-Ka: Kak Elok, Mas Edgar, Mas Ari. (Akbarmuhibar)
Si Oyen, kucing jantan tua yang sudah jadi “alpha male” di asrama ini. Sangat suka tidur di meja pengujian kesehatan sambil keliling minta makan. Kata Mas Ari, dia udah jadi raja di sini sebelum Mas Ari kerja di sini. Makanan kesukaannya itu makanan kering dan makanan kucing basah yang dicampur. Kalau udah selesai makan, dia bakal jadi manja banget! (Akbarmuhibar)
Hari ke 11 karantina, saatnya memeriksakan diri ke dokter untuk dilihat apakah si virus masih bersarang di badan atau ngga. Alhamdulillah setelah swab antigen mandiri, aku dinyatakan sehat dan negatif dari Covid-19. Alhamdulillah! Ki-Ka: Aku, Kak Elok, Mas Edgar. (Akbarmuhibar)

 

4 komentar

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *