Sakit Badan dan Sakit Jiwa Itu Sama-Sama Sakit dan Perih

Perhatian Sangkalan: Tulisan ini berdasarkan orang-orang yang ada di sekeliling kehidupan Akbarjourney.com yang terlibat dengan situasi mencari kesehatan jiwa. Beberapa kalimat bisa saja memancing atau menjadi trigger untuk kondisi Anda. Harap membaca dalam kesadaran penuh karena tulisan ini hadir dalam perspektif tunggal. Semua nama narasumber pada kutipan tidak disebutkan untuk keamanan dan kenyamanan.

Aku harus antre jam 1 pagi buat mendapatkan pelayanan psikiater di RS, lalu di geser lagi jam 4 subuh baru dapat nomor antrean.”

Ujar seorang sahabat yang akhirnya memilih pengobatan di rumah karena biaya rumah sakit yang mahal, serta banyak urusan di rumah yang tidak bisa ia tinggalkan.

Bar, gapapa nungguin di sini? Ini masih lama lho antreannya. Aku udah ngambil antrean nomor 13 dari tadi pagi dan ini baru dipanggil nomor 3 dan udah sore banget. Kamu pulang aja deh!”

Ujar seorang sahabat dekat yang sedang mengantre konsultasi poli jiwa di sebuah rumah sakit tipe C di kawasan Sleman, Yogyakarta.

Kamu termasuk yang beruntung, Bar. Kamu bisa ngerti hal-hal kesehatan jiwa, sedangkan bisa jadi keluargamu ngga tau sama sekali.”

Ujar psikolog yang saya datangi setiap dua minggu sekali selama satu tahun. Kita biasanya akan piknik mencari taman dan mengobrol. Bulan ini kami akan menjalani terminasi.

Dek, menurutmu gimana? Papa dibawa ke Rumah Sakit aja ya?”

Ujar saudara kandung saya yang sudah kesulitan karena kondisi papa tidak membaik secara mental. Saya harus membantu pilihan secepat mungkin dalam kondisi pascaoperasi setelah sidang tesis.

Kata-kata Rumah Sakit Jiwa bikin orang punya perspektif hanya orang-orang gila saja yang ada di dalamnya. Padahal isinya sama hanya ditambah spesialisasi jiwa, layaknya Rumah Sakit Ibu dan Anak dan Rumah Sakit Jantung.”

Ujar seorang dokter pada webinar yang didengarkan bersama dengan sahabat yang menjalani spesialis psikiater dalam kamar kos saya di Yogyakarta.

Sakit, perih. Itulah dua kata yang dapat mewakili perasaan saya ketika mencari jalan kesembuhan fisik atau badan serta kesembuhan mental atau jiwa. Sakit dan perihnya fisik lebih cepat dirasakan, mudah dikenali, sehingga bisa mendapatkan pertolongan di puskesmas ataupun rumah sakit terdekat. Tapi sakit dan perihnya jiwa, lebih senang kita tanam sendiri. Bukan untuk dikenali, bahkan untuk diredam supaya bisa tetap hidup dan selaras dengan kehidupan masyarakat lainnya.

Mereka bilang menahan perasaan penting untuk keselarasan kehidupan. Tapi itu kebohongan yang sangat menjijikkan. Jijik karena mereka tidak bisa merasakan perasaannya sendiri dan jijik karena memaksa kita terus berbohong seumur hidup, bagaikan menyimpan nanah yang bisa meledak kapanpun. Karena jiwa yang sakit menyimpan luka dan perih yang sama dengan badan yang sakit.

Aku sudah berbicara dengan sangat logis kepada orangtua, bahkan mereka tidak bisa menjawab pertanyaanku, dan mereka tetap mencari kesalahan argumenku dengan alasan: kamu jangan ngomong begitu sama ibumu.”

Ujar sahabat dekatku yang tidak ingin pulang ke rumah setelah bertengkar dengan orangtuanya dengan alasan sepele: Tidak mau potong rambut.

Banyak kondisi yang menyebabkan jiwa kita menjadi sakit, paling gampang dibedakan dari internal dan eksternal. Bisa dikatakan internal adalah kondisi diri kita dengan habbit atau kebiasaan yang dibangun, dan kondisi eksternal adalah hal-hal yang berada di luar kebiasaan tersebut. Membangun kebiasaan pertama kali dilakukan ketika anak dilahirkan, hingga berusia 5 tahun yang sering disebut dengan golden age karena cepatnya pertumbuhan otak. Kebiasaan-kebiasaan ini hadir dari penanaman nilai dan moral yang dilakukan oleh keluarga, terutama keluarga inti, dan terpengaruh pada tempat di mana anak tersebut di lahirkan.

Sehingga faktor pertama yang mempengaruhi sangat dalam, bahkan dapat memberikan trauma yang sangat besar adalah kondisi internal keluarga.

Banyak sekali calon orangtua yang memikirkan bagaimana perkembangan fisik anak, tapi lupa bagaimana membangun jiwanya. Bahkan dengan gampangnya memberikan pengasuhan pada keluarga besar yang lain, ataupun pengasuh. Abainya calon orangtua ini tentunya beralasan, bisa jadi karena ketidaksiapan mental dalam menjalani hidup berumahtangga, banyaknya tekanan keluarga yang ingin mengendalikan hidup mereka, hingga kondisi eksternal lainnya yang memaksa mereka tidak menuruti kata hatinya.

Sama seperti sakit di badan, sakit di jiwa juga akan menimbulkan luka dan bisa membusuk, tapi masing-masing orang memiliki cara yang berbeda untuk mengobatinya. Ada yang berpasrah pada Tuhan dengan harapan luka-luka ini bisa sembuh, ada yang menyelesaikannya dengan cara menyalahkan dirinya sendiri, orang lain, atau orang-orang yang menjadi penyebab luka, adapula yang menyembuhkannya dengan cara menyedot semua nanah dalam luka ini dengan saluran-saluran yang ia ciptakan sendiri.

Sesampainya di Inggris aku sudah tidak punya tenaga lagi, hanya berbaring selama seminggu di dormitory. Karena dendam dan trauma yang diberikan keluarga sudah habis, dan aku sudah mampu membuktikan diriku seperti apa.”

Ujar sahabatku yang menceritakan bahwa ia hidup mengandalkan energi dendam terhadap keluarganya yang selalu mengucilkannya ketika kecil.

Aku pernah protes pada orangtuaku, dengan cara menyebat diriku sendiri dengan gesper Bapak. Aku meminta dimarahi saja karena aku merasa perlakuan orangtua tidak adil antara aku dan saudara kandungku yang selalu dimanjakan. Namun responnya mereka puas mentertawakan tingkah polahku. Sejak itu aku jadi menutup diriku dan itu menjadi beban trauma yang selalu kubawa hingga kini.”

Ujarku pada psikolog.

Sampai di paragraf ini ingin sekali saya menyalahkan orangtua saya, namun ketika dewasa saya baru sadar bahwa tidak ada sekolah bagi orangtua. Sehingga apa yang mereka lakukan adalah murni dari pengalaman dan pembelajaran orang yang lebih tua, keluarga, atau hasil eksperimen sendiri. Ditambah lagi bila mereka menikah tanpa mengerti seperti apa dirinya sendiri, atau seberapa besar beban sampah emosi maupun trauma yang mereka bawa ke mana-mana. Akhirnya emosi-emosi ini akan membusuk dan menulari keluarga, salah satunya adalah anaknya sendiri.

Banyak orangtua menganggap anaknya akan selalu menjadi anak kecil, atau anak yang harus patuh kepada mereka, seakan-akan selamanya orangtua akan mampu mendominasi anak. Padahal makin lama anak-anak akan menjadi dewasa dan memiliki pola pikirnya sendiri, sehingga prinsip kepatuhan yang sering dikemukakan orangtua zaman dahulu tidak menjadi cara yang fleksibel untuk membesarkan anak. Sehingga menjadi orangtua yang selalu ingin belajar dan memahami dirinya sendiri serta anaknya, menjadi cara yang baik dalam menumbuhkan kepribadian bersama dalam keluarga.

Faktor kedua yang mempengaruhi adalah bagaimana interaksi eksternal yang dihadapi oleh seseorang.

Hal ini sangat terkait dengan bagaimana lingkungan menerima seorang individu untuk menjadi bagian dari sebuah sistem sosial yang sudah dibangun sebelum ia lahir. Berbagai interaksi eksternal ini akan mempengaruhi bagaimana mereka mengelola kejiwaan serta mendefinisikan manusia seperti apa yang cocok hidup bersama mereka dalam sistem sosial tersebut. Contoh sederhana, dimana masyarakat di Jawa menekankan sikap nrimo di dalam kehidupannya, pasrah terhadap apa yang sudah diberikan dalam kehidupan ini. Ini berbeda dibandingkan dengan masyarakat Minang yang mengajarkan pemuda mereka untuk marantau supaya mendapatkan perspektif lain dari kehidupan dan cenderung membuat pertengkaran ketika ada perspektif yang tidak sejalan.

Tentunya berbagai kebudayaan akan menghasilkan dampak yang berbeda dengan kejiwaan. Ada yang melakukan pengembaraan, pertapaan, meditasi, berdoa, hingga cara-cara lain untuk mengembalikan kesadaran pada diri, mengumpulkan energi baik, supaya hidup tetap seimbang. Tapi semua ini bisa dilihat sebagai tuntutan lingkungan supaya kita tetap berbuat baik dan bermoral, tidak membuat onar atau menyalahi sistem-sistem sosial yang sudah ada.

Akibatnya pada kebudayaan yang menuntut kita menerima, kita tidak diperbolehkan untuk menunjukkan sisi kita yang berbeda, ataupun pemikiran-pemikiran yang tidak sejalan dengan sistem yang ada. Hal yang sebaliknya terjadi di kebudayaan yang menuntut kita menentang, pada akhirnya kita tidak bisa menahan luapan emosi yang harus selalu diekspresikan dalam kegiatan sehari-hari, sehingga bisa menjadi bibit perkelahian tiap hari. Sehingga sangat penting untuk mengenal pada sistem sosial apa kita hidup dan seberapa besar sistem ini mempengaruhi habbit yang menjadi kebiasaan kita hidup.

Contohnya, banyak orang menyangka sakit di jiwa disebabkan karena gangguan jin, gangguan setan, mahluk gaib, sehingga mereka dicap sebagai orang yang berbahaya. Untuk menghindari kampung dari orang yang berbahaya, akhirnya mereka dibatasi gerak kegiatannya dengan mengikat kakinya dan ditempatkan di luar rumah. Kebiasaan ini sering dikenali sebagai pasung, yang di Indonesia sendiri masih sering dilakukan dan masih ditekan kejadiannya melalui berbagai program Kementerian Kesehatan RI.

Tentunya kejadian yang dicap sebagai sakit jiwa ini membuat malu keluarga penderita yang hidup dalam sistem sosial yang tidak menerima perbedaan. Sehingga demi menjaga norma dan marwah keluarga, seringkali para penderita dikucilkan, dijauhkan dari fasilitas kesehatan, dan ditutupi keberadaannya dengan alasan: “Malu ketahuan tetangga”. Kalau perspektif sinisnya: “Tidak apa-apa berkorban satu anak, yang penting nama keluarga tetap baik.”

Sedangkan faktor lain yang mempengaruhi kesehatan jiwa adalah faktor biologis dan genetika.

Dalam kegiatan Temu Blogger Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tahun 2021, dr. Celestinus Eigya Munthe.Sp.KJ.MARS (Direktur P2 Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kemenkes RI) mengungkapkan ada beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang mudah terganggu kesehatan jiwanya. Bisa dari faktor genetika yang diwariskan oleh keluarga, serta faktor biologis yang mempengaruhi tubuh dari infeksi maupun perubahan fisik yang terjadi. Hal ini akhirnya mempengaruhi jalannya kehidupan penderita.

Hal ini pernah saya alami ketika berhadapan dengan sahabat yang terus mengeluh sakit di bagian perut, akhirnya dilarikan ke IGD terdekat setelah mendengarkan saran dari puskesmas tingkat pertama yang sudah empat kali ia kunjungi.

Hasil lab-nya bagus semua, kemungkinan yang terjadi adalah trauma pascaoperasi yang berpengaruh pada psikis pasien.”

Ujar dokter jaga IGD yang menjelaskan kondisi sahabatku yang selalu mengeluh sakit beberapa bulan setelah operasi.

Lalu bagaimana kita dapat mendapatkan fasilitas kesehatan jiwa?

Kamu pernah ke psikiater pake BPJS ga sih, Bar? Di Sleman saja rujukan rumah sakitnya cuma satu. Akhirnya masing-masing pasien hanya dijatah 15 menit satu konsultasi.”

Ujar temanku yang harus mengantre subuh untuk mendapatkan nomor konsultasi.

Memang pelayanan psikologi yang independen itu mahal, dari 300 ribu hingga 500 ribu per pertemuan. Aku sarankan mereka mencari layanan dari puskesmas, lembaga swadaya, atau dari universitas yang punya fakultas psikologi supaya murah.”

Ujar psikolog ku yang menjabarkan cara-cara lain untuk mendapatkan pelayanan kesehatan jiwa.

Kata “jiwa” pada Rumah Sakit Jiwa sudah membuat orang enggan untuk berobat. Bahkan orang yang sudah diobati oleh psikiater namun menolak minum obat rutin, kita takut-takuti istilahnya dengan kalimat “nanti balik ke rumah sakit jiwa lagi lho kalau ga diminum obatnya,” supaya mereka bisa patuh minum obat.”

Ujar sahabat kos yang menjalani spesialis psikiater ketika kami berdebat bagaimana urgensi dicabutnya kata “Jiwa” di Rumah Sakit Jiwa.

Tiga kondisi di atas, mulai dari keterbatasan sarana kesehatan, mahalnya biaya konsultasi jiwa, serta adanya perspektif negatif terhadap masalah kejiwaan yang harus disembunyikan, makin mempersulit orang-orang menjangkau fasilitas kesehatan jiwa. Bagi yang sudah siap mengaksesnya, pilihan yang ada adalah menggunakan BPJS Kesehatan dengan fasilitas yang terbatas, atau bersedia mengeluarkan kocek yang dalam untuk menjalani konsultasi bersama psikolog. Bagi yang belum siap, kadang mereka terbentur dengan tekanan keluarga atau orang lain di lingkungan yang menganggap pergi ke fasilitas kesehatan jiwa adalah hal yang memalukan.

Kamu kenapa memangnya Dek? Kenapa harus sampai pergi ke psikolog?”

Ujar saudara kandungku ketika dikabari saya akan konsultasi ke psikolog.

Kamu kenapa harus ke psikolog? Kalau masalah-masalah tertentu bolehlah cerita sama saya dulu.”

Ungkap salah seorang konselor, sekaligus sahabat saya.

Sudahlah sulit mencari psikolog yang tepat, kesulitan ini masih diperparah oleh keadaan lingkungan sekitar yang tidak mendukung validasi diri, sehingga meruntuhkan niat untuk pergi ke psikolog. Karena hingga saat tulisan ini dibuat, kesehatan jiwa masih dipandang sebagai kesehatan kelas dua dibandingkan kesehatan fisik bagi sebagian besar masyarakat. Ibarat sudah jatuh lalu tertimpa tangga, mungkin peribahasa ini tepat bagi orang-orang yang mencari akses fasilitas kesehatan jiwa.

Meskipun Kementerian Kesehatan sudah berujar, ada beberapa program promotif preventif yang mereka lakukan untuk kesehatan jiwa seperti konseling pranikah, parenting skills training, social skills training, bullying prevention, suicide prevention, sex education, management stress, serta pencegahan penyalahgunaan Napza, namun masih kurang terasa. Masih ada teman-teman saya yang mencari pertolongan kesehatan jiwa dan kesulitan untuk mendapatkannya. Bahkan mereka rela menghabiskan tabungan mereka untuk mendapatkan pertolongan kesehatan jiwa, atau mencari pengobatan alternatif lain yang dapat membantu mereka yang biayanya bisa jutaan sekali datang.

Sehingga bila teman-teman yang membaca tulisan ini dan berpikir bagaimana caranya mendapatkan pelayanan kesehatan jiwa, ada beberapa tips yang bisa dilakukan.

  • Persiapkan diri dan mental. Percayalah pada sakit yang kita rasakan.
  • Carilah Puskesmas yang memiliki layanan jiwa, atau ke Rumah Sakit Umum dengan layanan psikiatri.
  • Bila dirasa pendekatan obat-obatan tidak cocok dengan dirimu, carilah psikolog yang bisa diajak berbicara di Puskesmas, Lembaga Swadaya, dan Kampus dengan Fakultas Psikologi.
  • Bila dirimu adalah mahasiswa, tanyakan fasilitas pendampingan psikologis pada kampus karena biasanya ada tim konseling yang dapat membantu.
  • Jalani pengobatannya dengan ikhlas, karena yang akan paham kesembuhannya adalah dirimu sendiri dengan bantuan baik dari Yang Maha Kuasa.

Ga ada kita yang mau sakit. Kalau sakit berarti tugas kita bagaimana cara mengobatinya hingga sembuh dan sehat.”

Ujar saya melewati seluruh pengobatan fisik dan mental beberapa tahun terakhir. Kalimat ini juga saya sampaikan ke sahabat-sahabat yang menjalani penyembuhan.

Tentunya banyak masalah, banyak kekurangan, dan banyak hambatan. Namun selama kita siap dan ingin menyembuhkan diri secara fisik dan mental, ingatlah niat yang kuat akan membantu kita menemukan jalan terang. Semoga kita tetap selalu kuat menghadapinya.

Tulisan ini saya buat pada Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2021 sekaligus untuk mengingat, betapa kesehatan itu harus dijaga selalu. Supaya hidup tetap terus bermakna, karena proses perjalanan akan selalu hadir seumur hidup. Saya berterima kasih secara langsung maupun tidak langsung kepada sahabat-sahabat yang sudah saya kutip ujarannya dalam tulisan ini, semoga kalian sehat selalu. Saya juga berterima kasih pada keluarga saya yang menjadi sumber trauma, sekaligus sumber belajar yang tiada henti dalam proses kehidupan ini. Semoga sakit dan perih yang dirasakan dalam proses kesembuhan, dapat digantikan dengan kebahagiaan di masa depan.

Kesehatan jiwa merupakan bagian dari Kesehatan secara keseluruhan.

Sehat jiwa berarti sehat secara fisik, mental, spiritual dan sosial sehingga seseorang mampu hidup mandiri & produktif dan mampu berkontribusi”

Pemaparan dr. Celestinus Eigya Munthe.Sp.KJ.MARS, Direktur P2 Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *