Literasi Anak Kunci Gemar Membaca Hingga Tua

“Duh males banget bacanya, banyak yang ga dimengerti kalimatnya”

Akhir-akhir ini, kadang kalimat di atas terlontar ketika aku mulai membaca berbagai buku untuk menulis tesis. Kayaknya berat, njlimet, sampai sampai membuat hawa yang menyeramkan hingga malas membaca. Padahal membaca menurut saya jalan yang penting untuk mencari ilmu, serta merambah berbagai segi-segi lain dari kehidupan. Saya bingung, kok bisa ya hawa-hawa seperti ini keluar? Mungkin saya tidak dibiasakan untuk membaca sejak kecil.

Oke, saya bisa membaca, tetapi membaca didampingi oleh orang tua mungkin menjadi hal yang langka. Sehingga saya merasa membaca itu menjadi sebuah kewajiban untuk pendidikan, bukan menjadi kenikmatan dalam melahap berbagai buku karena keinginan sendiri. Jadi tidak heran, dorongan untuk menghindari kegiatan membaca menjadi lebih besar daripada menyelesaikan buku bacaan.

Ternyata kebiasaan untuk membaca sendiri memiliki berbagai fakta yang menarik, hal ini dibahas langsung pada kegiatan Talkshow dan Launching Project Baca pada hari Jumat, 23 April 2021. Dengan narasumber dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A, dokter spesialis anak dan CEO Tentang Anak serta Fathya Artha, M.Sc., M.Psi, psikolog dan Co-Founder tigagenerasi, mereka membahas secara lugas bagaimana kebiasaan membaca buku pada anak dapat meningkatkan kemampuan literasi yang dapat membantunya di masa depan.

“Perkembangan otak anak itu sebagian besar terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan” ujar dr. Mesty

Dalam perkembangan anak dalam awal kehidupan, buku menjadi salah satu alat yang bermanfaat dalam perkembangan otak anak-anak supaya makin cerdas. Tentu hal ini juga harus didampingi oleh para orangtua yang bisa mendampingi anaknya dalam berkegiatan. Ditambah pula dengan kemampuan anak-anak yang benar-benar diserap dari pengalaman hidupnya, sehingga kemampuan literasi bisa diajarkan sedari dini.

“Jadi kemampuan literasi ini bisa dikuasai dengan pengalaman multi sensorik, anak-anak belajar melalui inderanya, mulai dari melihat mendengar dan sebagainya” terang Mba Fathya.

Tapi apakah kemampuan literasi hanya sekedar mengenal huruf saja? Ternyata lebih dari pada itu. Proses belajar membaca dan membaca untuk belajar merupakan dua hal yang berjalan berdampingan. Sehingga perkembangan bahasa serta kemampuan literasi berkembang berdampingan. Memanfaatkan kemampuan anak yang belajar dari pengalaman hidupnya, interaksi dengan orang dewasa sangatlah menentukan bagaimana kemampuan anak dalam literasi.

Menurut Mba Fathya, membaca membantu anak dalam berbagai hal, mulai dari mengasah kemampuan mengenal emosi dan mengendalikannya, meningkatkan kemampuan berbahasa anak, meningkatkan literasi dasar, mengaktifkan bagian otak yang berfungsi dalam perkembangan bahasa, perencanaan dan pembuat keputusan, serta mengasah keterampilan sosial dan empati.

Lalu semenjak kapan anak-anak dilatih membaca? Mulai dari 1 tahun, anak-anak sudah bisa didekatkan pada kegiatan membaca dengan mengenalkan buku itu sendiri. Menginjak 2 tahun, anak-anak bisa dikenalkan pada objek-objek baik di dunia nyata maupun dalam buku. Pada 3 tahun, anak-anak mulai mengenali huruf sehingga bisa dikenalkan pada buku yang memiliki gambar dan kalimat. Dengan pengenalan ini, diharapkan pada usia 4-6 tahun, anak-anak bisa membaca dan memahami cerita yang lebih panjang.

Tentunya membaca untuk belajar tidak bisa dilakukan seorang diri, karena penting bimbingan orang tua untuk selalu ikut serta dalam pengalaman anak-anak membaca. Caranya adalah, turut memberikan rasa aman kepada anak-anak kala membaca buku. Selain itu orang tua juga Ikut membacakan buku dan memberikan waktu mendongeng bersama anak, hingga memberikan nilai-nilai budi pekerti melalui berbagai cerita dalam buku.

Agar anak-anak lebih tertarik membaca buku, Mba Fathya menyarankan agar orang tua dapat menyediakan tempat khusu membaca, menceritakan dongen dengan suara dan properti yang seru, ingga melibatkan anak dalam cerita yang di baca sehingga berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu anak-anak jangan dipaksa, dan manfaatkan kemampuan motorik anak untuk melibatkannya dalam cerita. Dalam proses ini dr.Mesty mengingatkan orang tua agar tetap mencukupi gizi dan air pada anak, sehingga anak tetap sehat dan fit. Sehingga siap untuk kegiatan membaca dan belajar dalam menghadapi kehidupan.

Tapi tidak semua orang tua di Indonesia mendapatkan akses yang sama dalam memperoleh buku bacaan yang baik. Sehingga butuh kerjasama berbagai pihak, agar kesempatan ini menjadi lebih luas. Untuk itu Danone Indonesia bekerjasama dengan Tentang Anak untuk meluncurkan program BACA, yang diharapkan meningkatkan minat membaca anak melalui sumbangan buku bacaan.

“Tiap tahun itu ada anak Indonesia yang lahir, 4.5 hingga 5 juta anak, dan ini merupakan kekuatan besar bagi kita bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa yang bisa bersaing secara global, sehingga untuk literasi menjadi hal yang penting,” ungkap Arif Muhahidin, Corporare Communication Director Danone Indonesia.

Pak Arif juga menambahkan, literasi anak juga menentukan bagaimana tumbuh kembang anak, serta edukasi anak nantinya demi menyongsong Indonesia Emas pada 2045. Untuk itu Danone Indonesia akan menyumbangkan flipchart “Isi Piringku” sebagai panduan gizi, serta “Sampahku Tanggung Jawabku” sebagai buku yang memberikan kesadaran terhadap pentingnya pengelolaan sampah sedari dini.

Dalam program ini, Tentang Anak juga memberikan buku tema yaitu “Terima Kasih”, “Maaf”, “Berbagi”, dan “Tolong”, sebagai usaha memperkenalkan budi pekerti sekaligus edukasi anak dalam serial “Sikap Baik”. Nantinya akan ada 5000 buku yang disebarkan di seluruh pelosok Indonesia. Masyarakat luas juga bisa mendukung program BACA dengan melakukan donasi melalui @wecare.id.

Diharapkan pula program ini dapat meningkatkan akses buku pada anak, serta meningkatkan interaksi orangtua dan anak dalam kegiatan membaca. Sehingga anak-anak merasa aman dan nyaman mengeksplorasi dunianya. “Tentunya ketika ingin melihat anak memiliki kebiasaan membaca buku, yang paling mudah bagi anak adalah mencontoh orang tuanya” ujar Mba Fathya.

Jadi semoga saja anak-anak yang sudah meningkat literasinya, tidak terjebak pada hal yang saya alami, yaitu malas membaca, dan siap untuk meningkatkan kemampuan dirinya dalam belajar dan berbudi baik.

Diterbitkan
Dikategorikan dalam Asia

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *