Perjalanan beberapa bulan ini semenjak jarang menulis memang membuahkan pemikiran-pemikiran baru. Berbagai kejadian hadir untuk memperkaya berbagai hal, baik ilmu, cara berpikir dan wawasan yang makin luas. Saat ini saya sendiri baru kembali dari benua biru yang sangat indah (cerita perjalanannya lain kesempatan). Tapi saya sangat tertarik mengenai cerita anak muda yang berani mempertaruhkan masa depannya demi melanjutkan kehidupannya di Eropa, tepatnya di Praha, Republik Ceko.

Namanya tidak akan saya sebutkan disini (karena sudah mainstream juga namanya). Selama saya berbincang dengannya, saya selalu berpikir, apakah saya bisa berjuang sekuat yang dia lakukan? Bila saya diposisi yang sama, apa yang akan saya lakukan? Jalan kehidupannya memang berliku, namun ia bertahan.

Cerita pertama dimulai saat ia meniti karir menjadi seorang musisi. Sebelumnya ia adalah pemain drum, namun karena ketertarikannya dengan gitar, ia berubah haluan. Ngulik tiap malam di halaman kampusnya yang buka 24 jam hingga tangannya kebal dan luka khas pemain gitar pertama kalinya. Selama dikampus ia dibimbing oleh seorang dosen yang empat tahun kemudian menjadi narasumber saya untuk pembuatan skripsi. Hingga suatu hari, kesempatan datang. Bandnya mendapatkan kesempatan rekaman di salah satu label besar di Jakarta. Tawarannya fantastis dan dia mempertaruhkan segalanya.

Keluarga, sahabat, pendidikan hingga harta, ludes semua.

Ia berjanji pada ibunya bahwa ia akan membawa kesuksesan.

Pada tahap ini, saya mulai tertegun. Saya iri, saat itu sudah bisa membahagiakan ibunya.

Sedangkan hingga ibu saya tiada, rasanya tidak pernah saya benar-benar bisa membuat ibu saya bahagia.

Keinginan label tersebut mulai mengada-ada. Bandnya harus membuat 40 lagu, beserta lirik dan aransemen musik dalam waktu 3 bulan saja. Gila memang, tapi karena bandnya sudah all out, semua ia lakukan. Dalam sebulan bisa beberapa kali pulang balik Bandung-Jakarta. Ia tinggalkan kuliahnya tidak ikut UTS dan UAS. Teman-temannya sudah mulai membujuknya kembali kuliah, namun sia-sia.

Akhirnya ia menyelesaikan 40 lagu itu dengan baik, sesuai permintaan label. Namun…

Sang label hanya memilih vokalis band untuk diorbitkan, yang pekerjaannya hanya menyanyi lagu yang sudah dipersiapkan rekan bandnya.

Vokalis itupun akhirnya populer hingga sekarang, hingga kemarin saya masih lihat balihonya di salah satu Mall di Bandung.

Ia keluar dari band itu. Sudah tidak ada lagi pendidikan, harta dan berbagai kesempatan lainnya. Waktu tidak bisa di putar kembali. Dalam keputusasaannya, dia kembali berjuang untuk membangun sebuah mimpi. Bisa merantau dan sekolah ke Praha, tempat kakaknya mengadu nasib. Ia bertekad untuk mengumpulkan dana sendiri, untuk membiayai keberangkatannya ke sana. Mulai dari tiket, visa, hingga biaya kehidupannya di Praha. Iapun belajar bahasa ceko untuk mempermudahnya masuk ke universitas di sana.

Saya kembali iri, setelah kegagalan yang ia alami, mengapa bisa cepat kembali menyusun mimpi?

Saya merasa masih begitu “anak kecil” ketika saya mengalami berbagai kegagalan ataupun ketidakberuntungan. Larut dan lupa untuk kembali hidup dan menjalaninya.

Cerita kedua dimulai ketika kerja serabutan ia lakukan untuk mencukupi seluruh kebutuhannya untuk pergi ke praha. Dia bilang, butuh sekitar 200 juta untuk itu. Bahkan hingga membuat visa-pun, uang yang sudah dikumpulkan selama dua tahun berturut-turut tidaklah cukup untuk menjadi jaminan mendapatkan visa student disana.

Ia bujuklah semua temannya untuk bisa meminjamkan uang kepadanya, semua digadai hingga yang berharga dijual. Bertambahlah 100 juta lagi tabungannya.

Tetap ditolak.

300 juta masih belum mencukupi.

Padahal tiket pesawat, asuransi dan berbagai hal untuk membuat visa sudah ditangan.

Hingga pada batas terakhir, ia meminta seorang teman memindahkan seluruh uang perusahaan orangtuanya kedalam rekeningnya. Ia serahkan buku tabungannya, kartu atm hingga token yang ia punya.

“Tolonglah, gw cuma butuh print-an dari buku tabungan ini, duitnya ngga bakal diapa-apain”

“Pegang tuh semua buku, kartu, sama token yang gw punya”

Untunglah temannya bisa mengerti dan menolongnya. Akhirnya dengan 500 juta, peluh keringat sendiri, ia bisa mendapatkan visa student yang ia butuhkan agar bisa preparatory study di Praha.

Saya bertanya “Kenapa sampai mau segitunya?”

Dengan santai ia menjawab “Karena Ayah sudah tidak ada, Ibu sudah tua, tidak bisa bekerja apa-apa. Karena itu saya usahakan semuanya demi harapan terakhir membahagiakan ibu”

Saya Iri….

Kamu bisa, membahagiakan Ibumu dengan jerih payah sendiri.

Saat ini, ia masih menjalani preparatory studinya dan tinggal dengan kakaknya di Praha. Tidak lupa setiap akhir minggu ia rajin berjualan makanan Indonesia. Pada hari biasa setelah kuliah, dia bekerja sebagai asisten koki di restaurant asia.

Teguh hati, teguh pendirian dan yakin terhadap tujuanmu merupakan resep yang telah ia berikan kepada saya melalui cerita nyata yang diceritakannya. Tidak malu, tidak rendah diri dan dia bangga dengan pencapaiannya ini. Karena semuanya adalah hasil jerih payahnya sendiri demi ibunda tercinta.

Akhirnya ia harus kembali ke apartemennya dan saya mengantarkannya ke halte Národní Třída. Dia adalah seseorang yang telah memberikan saya mimpi kembali, untuk tetap berusaha dan percaya bahwa bantuan Tuhan akan datang pada waktu yang sangat tepat.

Thanks and i’ll back to the beautiful city of prag.


*) Keterangan Gambar: Václavské Náměstí, prag, foto pribadi

 

Tulisan ini sudah ditampilkan pada akun Kompasiana, dengan judul yang sama dan terpilih menjadi Artikel Utama pada 21 November 2015

Update : 2018, ia masih menjalankan pendidikannya sambil menjadi staff call center. Selain itu kegiatannya mencuci piring di restoran masih berjalan. Dalam beberapa tahun lagi ia lulus kuliah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten ini dilindungi!