Siapa yang ngga doyan makan mie? Setidaknya pernah mencoba bukan. Tapi bagaimana rasanya bila ada kesempatan menyantap cabe, dengan tambahan mie didalamnya. Mungkin pengalaman ini menjadi yang tidak terlupakan sampai akhirnya bolak balik wc di Mie Kamehame.

Terletak tidak jauh dari kawasan kampus UIN Yogyakarta, Mie Kamehame ternyata menjadi salah satu kegemaran para mahasiswa. Kebetulan Mie Kamehame sendiri memiliki dua cabang, yang pertama ada di Jalan Solo dan yang saya datangi ada di kawasan Demangan. Untuk di Jalan Solo sendiri tutup jam 3 sore, dan di Demangan buka mulai sore hingga jam 10 malam.

Menunya tidak jauh-jauh dari santapan yang sedang digandrungi oleh generasi milenial, sajian serba pedas yang bisa melilit usus hingga sakit perut. Memiliki beberapa tingkatan rasa, mie ayam kekinian dengan nama dari salah satu tokoh animasi ini bisa mencapai 80 cabe dalam satu mangkuknya. Untuk ukuran mie sendiri sama dengan mie ayam biasanya.

Bukannya mau nyombong, tapi mie ini emang bikin cuci perut lebih cepat dibanding biasanya. (Foto : Akbar)

“Bar, yakin mau Super Saiya, gue aja cuma bisa makan Saiya doang,” ujar Feri, sahabat saya di Jogja.

Sebelum Feri mengenalkan pada Mie Kamehame, ia ini sudah memperingatkan sebelumnya. Bahwa mie ini memang pedasnya lain dari yang lain, bahkan sampai sekarang ia hanya mampu menikmati mie dengan kepedasan tingkat Saiya, yaitu level 4 dengan 24 cabai. Tetap saja saya yang penasaran, keukeuh memilih mie dengan kepedasan level 6 dengan 36 cabai, yaitu Super Saiya.

Dari cara membuatnya saja, mungkin pecinta kuliner yang sangat menikmati sensasi pedas akan ngiler melihat tumpukan cabe dalam mangkuk. Tiga sendok makan cabai rawit muda yang sudah di giling dan diberikan daun jeruk nipis tampak menumpuk di tengah mangkuk. Ditambah pula dengan bumbu mie ayam seperti minyak, vetsin, potongan ayam dadu yang sudah dimasak dengan kecap manis, dan sebagai penutup mie ayam dimasukkan di dalam mangkuk.

Sang koki mengaduk mie dengan pelan dengan dua garpu, takut isi dalam mangkuk bisa keluar kapan saja. Setelah mie dan bumbu tercampur sempurna barulah daun sawi rebus ditambahkan di akhir sebagai topping yang akhirnya ditutup dengan guyuran kuah mie ayam nan gurih menggoda. Tampaknya mie ayam ini biasa-biasa saja -beneran deh, ga aneh aneh pake topping keju atau potongan sosis- tapi percayalah faktanya adalah…

Saatnya memakan cabe rawit 36 biji dengan topping mie ayam.

Lihat! Cabe rawitnya mengintip diantara sela-sela mie ayam yang akan saya makan. Ini baru sedikit lho, karena di balik kuah mie ayam masih terkandung cabe-cabe lainnya yang menanti untuk disantap! (foto : Akbar)

Kunyahan pertama, saya masih bisa menikmati mie yang katanya berbahaya ini.

“Gimana bar? Kemakan?,” tanya Feri yang mulai khawatir.

“Masih kok, enak,” ujar saya yang tidak tahu apa kejadian yang terjadi setelah momen ini.

Akhirnya saya mulai menyantap mie ini kembali, tentu saja setelah meminum air teh tawar dingin yang mampu meredakan panas lidah yang mulai membara.

“Ada lho mas yang bisa ngabisin mie ayam level z (80 cabe rawit), tapi dia makan ngga pakai minum sama sekali,” ujar sang koki.

CILOKO

Baru saja sang koki menyampaikan hal tersebut, mie ayam yang kaya dengan taburan biji cabe ini mulai berubah rasa. Lidah terasa lebih terbakar karena rasa mie yang saya makan menjadi berkali kali lipat lebih pedas dari sebelumnya. Perut juga mulai menjerit, seiring dengan perjalanan rawit-rawit menggedor dinding pencernaan saya. Penyebabnya adalah : minum es teh tawar.

Habiskan! Daripada mubazir.

Hati saya mulai tidak enak, tapi mau tidak mau mie ini harus saya habiskan secepat mungkin. Ditengah penderitaan itu, mulut saya seakan tidak bisa membedakan antara mengunyah atau harus menelan cepat-cepat mie yang memiliki ranjau yahud ini. Ga pakai ba-bi-bu, langsung saja sumpit menari dengan lincah menghabiskan tiap lembar sawi, dibungkus dengan mie ayam, dan menikmati rasa manis dari potongan ayam yang menyelamatkan lidah dari terjangan rasa menggila sang cabe rawit.

3 menit kemudian yang tersisa adalah kuah berwarna cokelat ditambah dengan butiran cabe yang menemani. Seakan-akan saya sudah menyelesaikan pekerjaan luar biasa di malam ini. Good job!

Tak shyanggup lagi, yang tersisa adalah kuah mie ayam nan nikmat tapi cabenya itu gila. (Foto : Akbar)

“Gimana bar? Abis?” tanya Feri.

Saya terdiam tidak sanggup menjawab, hanya jempol saja yang berani menampakkan dirinya untukย  mengucapkan sebuah aklamasi – saya berhasil melakukannya- di depan khalayak umum. Ekspresi saya sesudah menikmati mie ini? Ah jangan ditanya, mata sudah sembab, bibir sudah dower, dan wajah sudah memerah ditambah hidung yang tiba-tiba panas.

Alamak, tolong aku. Order es teh manis please! (Foto : Akbar yang beneran swafoto)

Kesimpulannya adalah, boleh saja makan mie yang super pedas, tapi mohon jangan gegabah dan sekali-sekali menikmati es teh tawar ketika makan. Apalagi jika punya prinsip “semua makanan harus dihabiskan dengan baik dan benar” – ala militer – yang bisa menjebak di saat kritis seperti ini. Waduh, bakal jadi masalah juga bila punya penyakit maag atau radang usus. Tidak disarankan.

Tapi buat saya, pengalaman makan Mie Kamehame dengan level 6 dan 36 cabe ini membuka mata saya betapa lemahnya lidah yang nasibnya separo “Padang” ini. Mengaku suka pedas, tapi ketika di sapa cabe rawit langsung menyerah. Sepertinya saya harus les dulu sama uda-uda padang yang ngulek sambel pakai gilingan batu tanpa sarung tangan, supaya sah jadi lidah padang (lah apa hubungannya, ngawur ini)

Tapi jika Anda yang membaca tulisan ini masih memiliki nyali untuk menikmati mie super pedas ini. Bisa jadi Mie Kamehame Z dengan level 10 dan 80 cabe rawit bisa jadi pilihan. Karena kata mas kokinya, ternyata ada yang mampu menghabiskannya dalam waktu 50 menit, dan dia tidak ada masalah apa-apa. Gila memang.

Akhirnya setelah menenangkan diri dan menikmati segelas es teh tawar di gelas kedua, saya dan Feri memutuskan untuk pulang ke tempat penginapan. Dengan senyum merekah, sang koki melepas kami dari Mie Kamehame dan berharap membawa lebih banyak pelanggan ke tempat mereka – mungkin, tafsiran abstraknya seperti itu-.

Tiba-tiba, Brooooot!

Numpang kentut ya, dari pada masuk angin. Hahahaha. Sayounara Mie Kamehame.

Jogja emang istimewa untuk yang satu ini.

40 Replies to “Makan Cabe Dengan Tambahan Mie di Mie Kamehame Yogya”

    1. iya, lagi hits banget pokoknya, bahkan sampe populernya mie kamehame ini punya cabang lagi ๐Ÿ˜€ terima kasih sudah mampir ๐Ÿ™‚

  1. ih Bar, nggak kuat liat sisa cabenya segitu gila habis ini ya pedesnya. Tapi liat kuah dan tekstur mienya nampaknya nantangin buat di makan. Hahaha

  2. Wah..daku mah nyerah dah. Makan 5 rawit aja udeh keburu bolak balik ATM ini…Alamat ke Tempat Merenung ๐Ÿ˜

    1. keliatannya enak? hmmm kayaknya mas belum pernah merasakan huah-huah dengan sekebon cabe merah deh HAHAHAHAH ๐Ÿ˜€

  3. Namanya lucu pakai istilah2 Dragon Ball. Jadi penasaran level yang lainnya, apa mungkin namanya awan kinton, Bulma, Songoku dan yang lain? Sebagai pencinta makanan pedas, boleh juga nih coba

  4. Hahaha, edan deh yang kuat makan cabe dikasih mie macam gini. Apalagi, yang bisa 80 cabe. Ngeri bibir dower, perut panas, perut melilit. Ampun, aku nyerah deh. Bisa bolak balik ke toilet nanti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten ini dilindungi!