Lecutan semangat, inilah yang paling saya cari dalam beberapa bulan terakhir. Setelah lulus dari pekerjaan kantoran dan memilih menulis dari rumah, mencari mencari impian baru memang sebuah keniscayaan. Apalagi disaat waktu sepenuhnya dalam genggaman sendiri, tanpa harus takut ikut dalam jadwal kerja yang ritmenya sama setiap tahunnya.

Bayangkan saja, seorang Akbar, yang saat ini masih single, yang statusnya seorang freelancer design ini, punya impian yang mungkin dianggap gila bagi orang-orang di kampung saya. Dulu pas SMA, dengan bangga saya menyatakan akan pergi kuliah ke Jepang! Bahkan berusaha ikut ujian supaya bisa mendapatkan kesempatan pertukaran pelajar di Jepang.

“Gapapa, Ibu mah mendoakan kamu bisa keliling dunia. Kaki kamu nanti panjang ke seluruh dunia,” ujar Ibu saya, yang saat itu sangat mendukung keinginan saya.

Dengan gagah berani, saya beserta rombongan peserta pertukaran pelajar dari SMA, berangkat ke ibukota provinsi mengadu peruntungan untuk pertukaran pelajar ke Jepang. Ternyata tidak satu provinsi saja, para peserta datang dari 3 provinsi yang berbeda, sehingga kesempatan untuk terpilih menjadi lebih ketat.

Hasilnya? Gagal total.

Disanalah keinginan kuliah ke luar negeri makin menggebu-gebu, apalagi Ayah yang pernah ke Jepang dan berkantor di Tokyo, Osaka, dan Kyoto, sering memanas-manasi saya untuk segera berfoto di kawasan Shibuya. Bahkan beliau juga mencekoki saya dengan pelajaran bahasa Jepang, melalui televisi di rumah. Bahkan Anak umur 5 tahun sudah disuruh baca katakana dan hiragana (aksara Jepang), ketika lagu kartun sudah didendangkan pada sore hari.

Tetap bersikukuh kuliah di Jepang, seorang Akbar yang kini masih di Indonesia dan belum kemana-mana ini masih belum menyerah. Setelah menamatkan pendidikan Diploma di Bogor, mengunjungi Education Fair yang ada di Jakarta menjadi salah satu agenda wajib setiap tahunnya. Disana saya mendapatkan informasi mengenai kuliah ekstensi yang diadakan salah satu universitas swasta yang ada di kasawan Ritsumeikan, Jepang.

Semua persiapan TOEIC sudah diselesaikan, formulir dan dokumen sudah diperiksa kembali oleh kantor perwakilan kampus di Indonesia dan siap dikirimkan. Namun takdir berkata lain. Meski semua persyaratan sudah dilengkapi dengan baik dan siap dikrimkan ke kampus, Ibu terang-terangan menolak.

“Yakin kamu mau kuliah ke Jepang? Sarjana di sini sajalah, biar jaga rumah,” inilah pernyataan Ibu yang membuat saya mengurungkan niat kembali kuliah ke Jepang.

Memendam hasrat untuk kembali kuliah keluar negeri, pendidikan sarjana terapan akhirnya harus tetap jalan  di kampus seni Bandung. Bahkan tekad semakin bulat, saya tidak ingin kuliah sarjana lama-lama karena ingin bekerja dan mengumpulkan uang. Tujuannya? Untuk mengambil ujian bahasa Inggris yang bila dihitung-hitung biayanya sangat mahal. Sayang kehidupan dan takdir tuhan sangat senang menguji manusia.

Ditengah pendidikan, Ibu tiada.

Semua mimpi terasa runtuh. Bahkan membangun mimpi kembali rasanya sudah sangat sulit, apalagi mengenang bahwa dulu sempat sangat ambisius untuk kuliah di luar negeri. Pada akhirnya menyesuaikan keadaan menjadi pilihan, tetap berada di Indonesia dan fokus jalan-jalan untuk taddabur alam untuk mengetahui dan menikmati bahwa sebenarnya kita hanya sebuah debu yang sangat kecil di mata tuhan. Mimpi kuliah sudah tenggelam entah kemana.

Setahun kemudian, sebuah poster besar terpampang di dekat kawasan Tugu Kujang, Bogor. Di sana tertulis, akan ada biaya pendaftaran gratis bagi calon mahasiswa baru yang mendaftar lewat agen tersebut. Tentu saja ini menjadi titik balik untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Setidaknya yakin dahulu bahwa mimpi yang sering dibilang orang sebuah halusinasi, masih bisa digapai.

Jepang menjadi negara pertama yang saya bidik, namun agen tidak memberikan biaya pendaftaran gratis untuk universitas di sana. Pilihan yang akhirnya mereka berikan adalah Australia, negara yang sangat dekat dari Indonesia dan memiliki kualitas pendidikan yang sangat baik. Apalagi beberapa universitas di Australia memiliki peringkat yang jauh lebih baik dibanding universitas Jepang yang saya inginkan.

Letter of Acceptance yang berhasil didapatkan setelah mendaftar kuliah ke Australia. Semoga masih ada kesempatan lainnya, setelah surat ini harus terbuang karena tidak mendapat beasiswa. (dok. Akbar)

Bismillah, saya mendaftar di Monash University di Master of Communication and Media Studies. Cocok dengan latar belakang pekerjaan saya, dan Alhamdulillah saya diterima dengan dikirimkannya Letter of Acceptance ke email saya. Sontak kegembiraan di dalam hati langsung terpancar dan mimpi baru menunggu untuk diwujudkan. Kuliah ke Australia.

Itu baru awalnya saja, karena banyak lagi kepedihan yang harus dirasakan, mulai dari belajar IELTS hingga ke Kediri, hingga pendaftaran beasiswa yang dapat membiayai keberangkatan saya untuk kuliah. Namun semuanya pupus dan belum ada hasil yang maksimal hingga saat ini. Hambatannya banyak, mulai dari keterbatasan waktu, biaya, hingga bahasa. Bahkan ujian IELTS juga belum jadi diambil, akibat masih kurang latihan dan dana yang besar.

Semangat yang pernah dialami ini, ternyata terasa dalam setiap lembar buku Neng Koala yang dilahap habis seketika. Bahkan ada cerita yang lebih ngenes, memberikan cambukan, dan kembali menumbuhkan semangat. Kalau bisa dibilang, buku ini sukses menyapu bersih semua kedukaan dan kegagalan kuliah ke luar negeri yang sudah dirasakan sejak SMA.

Membaca buku Neng Koala, terasa seperti menyadarkan diri dengan berbagai cambukan didalamnya. (foto : Akbar)

Pada kata pengantarnya saja, Mas Butet Manurung, Alumnus Australian National University menekankan perubahan paradigma. Dari yang dahulunya “Saya mau ke luar negeri, tapi saya tidak istimewa” menjadi, “Saya tahu saya tidak istimewa tapi saya bisa kuliah lagi ke luar negeri!” – inilah kata-kata yang mencambuk diri agar kembali bergerak dan memanaskan pikiran supaya bisa menyerap ilmu lebih banyak lagi.

Membuka bab pertama, Mba Ellis Indrawati juga mengungkapkan mimpinya untuk kuliah ke Australia sudah dipendam sejak tahun 1998. Memendam keinginan lama, suratan takdir baru mengizinkan Mba Ellis untuk berangkat tahun 2011, alias 13 tahun kemudian. Bahkan ketika tes, ia dijuluki sebagai Alumnus Gagal karena tidak pernah lulus tes untuk daftar kuliah.

Seketika membaca ini saya langsung merinding, membayangkan betapa besarnya perjuangan dan kepedihan yang harus dirasakan untuk mewujudkan sebuah mimpi. Inilah yang menjadi senjata untuk mengevaluasi diri, sebesar apa usaha yang sudah dilakukan dan sebanyak apa waktu yang sudah dikorbankan untuk kuliah ke luar negeri.

Masuk ke bab kedua, Mba Nadia Sarah kembali mengingatkan saya akan perjuangan ibu dan keluarga yang sangat besar untuk mendukung pendidikan anaknya. Bahkan di tengah ujian semester ia terpaksa pulang untuk menjenguk ibunya yang sakit stadium 4. Namun sayang, sang ibu meninggal dunia bahkan sebelum Mba Nadia pulang.

Membaca bab ini, sungguh perasaan saya jadi tidak karuan, karena tidak menyangka ada pengalaman yang sama dalam buku Neng Koala ini. Bahkan saya ingat betul, ketika ibu saya dirawat di rumah sakit permintaannya cuma satu. Jika sembuh, Ibu ingin melihat saya wisuda diploma. Namun ibu tidak sempat sama sekali melihat saya wisuda sarjana.

“Kamu pergi kuliah saja sana, kalau ibu ada ayah yang jagain,” ungkap ibu setiap saya menjenguk di rumah sakit.

Semua perasaan sedih saya menguap ketika membaca tulisan Mba Uti Brata, seorang mahasiswi di Australian National University, yang menceritakan pengalamannya gagal kuliah. Mba Uti percaya bahwa bertanya kepada orang lain itu tidak ada salahnya, bahkan kepada profesor sekalipun. Rasa tercambuk kembali mengenai diri, apakah saya sudah mencoba kembali untuk beasiswa selanjutnya? Atau sudahkah saya mengubah strategi untuk tetap kuliah ke luar negeri?

Akbar dan Mba Melati, Penggagas Neng Koala (foto : Akbar)

Sejuta pertanyaan ini bisa terjawab di dalam buku “Neng Koala, Kisah-Kisah Mahasiswi Indonesia di Australia” yang telah di rilis 25 April 2018. Buku pink yang tebalnya 254 halaman ini menceritakan perjuangan wanita dari beragam latar belakang, mulai dari Ibu Rumah Tangga, Pegawai Negeri Sipil, Karyawati, hingga Single Parent yang memilih memperjuangkan pendidikannya.

Perjuangan mereka keluar dari stigma wanita Indonesia yang dibiasakan hidup di rumah, ternyata berbuah manis dan bermanfaat lebih besar untuk generasi mendatang serta masyarakat di sekitarnya. Tentunya dukungan keluarga, khususnya para pria juga penentu penting bagi wanita yang sudah berkeluarga, agar direstui keberangkatannya ke Australia demi meneruskan kuliah.

Untuk para scholarship hunter, mahasiswa, hingga orang-orang yang memiliki mimpi menginjakkan kaki ke Australia dan kuliah, wajib membaca buku yang ditulis 34 alumnus ini untuk bekal kuliah. Sedangkan bagi saya, akan merekomendasikan diri saya sendiri untuk mengambil ilmu dalam buku ini, dan diterapkan sebagai langkah pertama untuk mencari beasiswa kembali. Sekaligus memotivasi orang-orang terdekat saya untuk tidak menghentikan mimpinya karena keadaan.

Harus!

Neng Koala sukses melecut semangat!
————————————————
Tulisan ini keluar menjadi Juara 1 Lomba Blog Neng Koala pada bulan Mei 2018.
Terima kasih kepada pembaca dan penyelenggara acara, semoga karya yang dihasilkan akan lebih baik kedepannya.

 

48 Replies to “Melecut Semangat! Neng Koala Buat Impian Kuliah Ke Luar Negeri Kembali Meluap-Luap”

  1. Waah cocok nih buat bacaan para pelajar ya untuk melecut semangat menuntut ilmu. Salut akan perjuanganmu mas meraih mimpi sekolah di luar negeri. Moga segala impiannya tercapai yaa

  2. Perjuangan yang tak akan membohongi hasil. Tetap semangat bar! Percaya mimpi lo itu akan segera terkabul seiring usaha dan doa yang terus dijalankan. Yosh!

  3. Buku yang inspiratif banget ya ka Akbar. Aku juga bacanya seperti sedang di Australia. Membayangkan belajar dan hidup di negeri orang. Untungnya perserikatan mahasiswa Indonesia di Ausi sangat kuat, sehingga bisa saling memotivasi. Neng Koala recomended book.

  4. Akh ini memecut semangat yang tetap terus ingin menimba ilmu ya. Kita memang tidak harus istimewa dulu untuk sampai menimba ilmu ke negeri orang.

  5. wah, keren ya ketrima di Monash University dengan jurusan yang Mas Akbar pengen
    Aku juga pengen jurusan itu tapi belum keturutan ambil S2 nya
    TUlisan ini kayak mecut aku juga nih
    Pengen buru buku Neng Koala ni

    1. Bahkan lebih dari neng-neng mas, ada intrik keluarga, persahabatan, pengorbanan, hingga nilai-nilai kehidupan yang universal.

  6. Jadi penasaran sama bukuny. Aku malah gak begitu ingin sekolah ke LN, tp adik aku justru yg semangat terus menjejalai informasi beasiswa ke LN. Mungkin ak hrs baca ini supaya ada letupan semangat.

  7. Oh penggagasnya Mbak Mel Empat Kembara. Heu…sepertinya buku ini wajib saya baca. Saya terpikir buat lanjut kuliah tapi ada rasa takut memulai. Saat nonton video kampus idaman aja rasanya deg-degan. Bismillah, lanjuuuut!

  8. Keren euy lihat perjuangan orang-orang demi pendidikan. Semoga yang kuliah di luar negeri bakal balik buat bangun bangsa ya… hehe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten ini dilindungi!