Setiap manusia memiliki segitiga kehidupan yang harus mampu dijaga dengan seimbang. Heart, Head, and Hand.

Barangkali sebagai manusia, kita lupa bahwa masing-masing individu memiliki 3 hal yang penting, dan menjamin perilaku tetap dalam posisi seimbang. Heart, Head, and Hand, alias hati, pemikiran, dan kreativitas. Tiga unsur ini juga menjadi motornya perkembangan manusia, yang harus dijaga dengan baik dengan porsi yang seimbang. Bahkan mereka yang dapat mempertahankannya, dapat mencapai kesuksesan yang dapat membahagiakan diri sendiri dan orang lain.

Istilah gampangnya, keseimbangan ini membuat manusia menjadi ‘lebih beradab’.

Barangkali prinsip keberanian yang sering diungkapkan orang betawi ‘lo jual gua beli’ sudah bergeser menjadi sebuah neraca jual beli. Neraca ini membuat orang-orang mulai memperhitungkan tenaga yang mereka keluarkan, pemikiran yang mereka curahkan pada sebuah pekerjaan, dengan hitungan angka yang nyata dalam tulisan kertas rupiah. Bahkan mereka rela untuk membandingkan semua kemampuan yang diberikan oleh Tuhan (bahkan kita sendiri tidak dapat menciptakannya, kecuali untuk melatihnya), dengan hitung-hitungan angka yang harus dipenuhi oleh orang lain.

Sampai-sampai, mereka lupa bahwa segitiga hidup tersebut dalam keadaan yang seimbang, sehingga kreatifitas harus bisa bernilai dengan lembaran merah, atau pemikiran yang mereka curahkan harus berwujud dengan tambahan nilai dalam rekening. Walhasil akibat nyata mulai tampak, segitiga sama sisi harus bergeser menjadi segitiga sama kaki. Dua kaki yang sangat besar rela mengangkangi satu hal yang disebutkan dalam kitab, memiliki peranan penting dalam keimanan terhadap sang pencipta dan hubungan dengan sesama, yaitu hati manusia.

Dengan hati lebih sempit dibandingkan kepentingan kreativitas dan pemikiran yang dikonversi menjadi angka, maka perselisihan yang berurusan dengan uang menjadi hal yang lumrah. Bahkan mereka rela membuat permusuhan, ketika angka tersebut sudah mulai jatuh dipandangan orang lain. Memutuskan sliaturahmi juga menjadi cara yang mereka (orang-orang yang lebih menghargai materi) kira elegan, untuk meningkatkan pundi-pundi angka menuju tingkatan maksimal, dengan mengabaikan hati yang memberontak.

Mereka tidak sadar, hati mereka sudah tergadaikan dengan rupiah yang tidak seberapa.

Contoh nyata sudah terlihat dan dekat di genggaman telepon pintar yang jadi senjata. Obrolan di WhatsApp kini sudah mulai menunjukkan indikasi, bahwa penentu kemanusiaan setiap orang sudah berubah menjadi uang. Anggaplah perbincangan sederhana tersebut hanya sebuah guyonan, tapi secara tidak sadar mampu menggambarkan situasi psikologis, yang mengharapkan angka dibanding eratnya persaudaraan.

“Ah males lah kalau mesti nulis sambil share medsos dapatnya cuma ***ribu, kan kita udah capek ini, capek itu”

“Kita udah ngorbanin kerjaan di rumah, eh goodybagnya cuma dapat *** sama ***, rugi ah dateng ke acara itu”

“Lagi ragu nih mau berangkat ke acara *** atau ***, bisa dibantu ga yang mana yang lebih menguntungkan?”

“Kalau saya dapetnya ga sampe ***, saya ga mau ikut proyek ini deh, ngga nguntungin”

“Saya harap, teman-teman unfollow atau block yang namanya si *** karena udah nyerobot job yang saya perjuangkan. Penipu!”

“Makan tuh recehan, duit *** ga seberapa aja lo belagu! Seharusnya lebih hormat sama orang tua!”

“Kok saya ngga pernah di undang di acara dari ***? Pasti ada apa-apanya!”

Udah mulai mual bacanya? Atau itu memang Anda?

Saya dipertemukan dengan seorang teman yang mampu melihat energi dalam tubuh. Sontak dia terkejut melihat energi saya yang buruk dan langsung berkata. “Bar, badan kamu itu capek gara-gara energi jelek yang ada di sekitar kamu. Kebanyakan sahabat-sahabat yang ada di sekitar kamu, hidupnya hanya mementingkan timbal baliknya saja. Segitiga hatinya menciut”

“Benarkah?” dan saya mulai tertegun, karena saya dulu juga seperti itu.

Semua dihitung rupiah, semua dihitung materi, semua harus menguntungkan kantong, semua harus bisa menjadikan saya mendapatkan manfaat yang lebih besar. Bahkan harus rela menginjak, memutuskan, dan menjelekkan sahabatnya sendiri, untuk mendapatkan porsi terbesar dalam sebuah pekerjaan. Sebegitu tinggikah kangkangan kaki materi, uang, angka rekening, ataupun pundi-pundi rupiah yang harus menginjak hati kecil kita?

Bangunlah!

Segitiga Head, Hand, and Heart harus berada dalam porsi yang sama. Mereka hidup berdampingan, dan menjadi motor dalam perjalanan hidup manusia dalam situasi apapun. Bak jari-jari roda di atas gerobak kehidupan, mereka harus sama panjang, sama kuat, dan sama kualitasnya agar tetap bisa bergerak. Banyak cara untuk menyeimbangkan segitiga ini, karena setelah mendapatkan pundi-pundi yang dikira maha dahsyat (padahal ngga dibawa mati) akan lebih baik kita mampu berbagi dengan sesama. Tak hanya berbagi materi saja (yang selalu takut berkurang ketika dibagi dengan orang lain), kehadiran Anda untuk bertemu, berbagi cerita yang memotivasi, atau menggembirakan hati orang lain dengan senyuman, itu sudah menjadi sedekah hati yang luar biasa.

Jangan sampai, hati yang menjadi titik tengah kemanusiaan yang ditanamkan tuhan dalam kehidupan, tertutup dengan keegoisan duniawi. Disini saya tidak bilang materi tidak penting, namun usahakan materi sekecil apapun yang pernah kita peroleh, mampu untuk dikonversikan menjadi media berbagi dengan sesama manusia. Buatlah mereka tersenyum dengan sikap, perkataan, dan perbuatan kita tanpa memandang siapa dia, apa urusannya, atau sedekat apa dengan kita, atau sebanyak apa uang yang mampu dia berikan dengan kita. Karena pada akhirnya, yang harus ditimbang adalah hati kita, bukan uang, ataupun seberapa kreatifnya kita mengelabui orang lain untuk mendapatkan keuntungan maksimal.

Semoga kita mampu selalu berbagi dengan baik di hari-hari selanjutnya. Amin. Karena setiap waktu, kita harus belajar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten ini dilindungi!